MEMAKNAI HIDUP

Di dunia ini kehidupan silih berganti, ada suka, ada duka, ada kelahiran ada pula kematian, kita tak pernah tahu kapan ajal kan menjemput, namun yang kita tahu adalah bagaimana kita hidup untuk menyongsong kapan kembalinya kita kepada Sang Pencipta.

Kemarin siang aku mengantarkan oma ke tempat istirahat terakhirnya, begitu banyak yang melayat menunjukkan betapa oma memiliki relasi yang luas dan baik dengan sesamanya, banyak yang merasa kehilangan, banyak yang menitikan air mata, dan banyak pula yang mengatakan oma begitu rajin ibadah. Oma dalam tidur panjangnya terlihat sangat cantik dan damai, tak bosan-bosannya aku memandang wajahnya selama prosesi ibadah di rumah duka.

Ada kisah menarik yang kudengar dari salah satu ibu saksi mata yang melihat saat oma dipanggil pulang, katanya waktu dalam ibadah ada acara pemberian sumbangan untuk aksi social gereja, setiap jemaat maju untuk memasukkan amplop ke dalam kotak, oma adalah jemaat yang paling belakangan memasukkan amplop karena oma memang takut berdesakkan. Dan kata ibu tadi selesai memasukan amplop sumbangan oma kembali ke bangkunya, hanya selang beberapa menit kemudian, oma dipanggil pulang dalam kondisi sedang ibadah. Itu artinya oma pulang dalam keadaan siap menghadap Bapa.

Dalam benakku, sebelum oma dipanggil Tuhan, mungkin ada semacam komunikasi antara mereka begini
Oma : Tuhan hanya ini yang mampu aku berikan bagi pelayanan, dan aku beharap ini bisa sedikit membantu.
Tuhan : Hari ini juga engkau bersama dengan-Ku di Firdaus.
Oma meninggal tepat pada hari Paskah (04.04.2010) dimana umat Kristen merayakan kemenangan Yesus atas maut, yang berarti harapan bagi orang percaya untuk hidup kekal dalam kerajaan-Nya.

Semasa hidup oma banyak memberikan teladan tentang makna kasih yang sebenarnya, yang baru kusadari dan kurenungkan justru pada saat oma telah tiada. Sedih memikirkan hal ini, tapi aku bersyukur karena walau terlambat, apa yang oma telah lakukan begitu membekas dan sangat patut dicontohi.

Teladan kasih yang aku maksud adalah oma selalu hidup dalam ucapan syukur, apapun yang terjadi dalam hidupnya, jarang sekali aku mendengar oma mengeluh, atau kecewa dan marah dengan keadaan, karena oma yakin hidup itu adalah anugerah dan di dalam hidup itu selalu ada berkat dan yang terpenting bagi oma, Tuhan selalu ada dan selalu menyediakan.

Teladan yang kedua adalah kesetiaan, Oma adalah orang yang tak pernah absen ibadah sekalipun kondisi cuaca tidak mendukung, bahkan kondisi tubuh sedang tak sehat. Bagi oma berkumpul dan bersekutu dengan orang-orang seiman dalam gereja merupakan nafas hidup dan kerinduaannya untuk memuji Tuhan begitu nyata dalam kesetiaannya beribadah, tiap pagi jam 5 di gereja pantekosta dan tiap hari minggu jam 7 di gereja Kristen jawa (khusus hari minggu oma ibadah sampai 2 kali).

Teladan yang ketiga adalah pelayanan, walau secara ekonomi kehidupan oma pas-pasan namun itu tidak menghalanginya untuk berbagi kasih, bukan Cuma harta yang diberikan tetapi waktu dan tenaga juga, tak heran oma sering mengunjungi jemaat yang sakit atau ikut pelayanan oikumene, bagi oma selama tubuh masih kuat melangkah maka itu berarti pelayanan. Bukan Cuma melayani di luar, oma juga melayani keluarganya, biasanya sebelum berangkat ibadah oma telah menyediakan sarapan untuk anak dan cucunya yang masih terlelap tidur.

Yang keempat teladan tentang ketulusan, selama oma melayani dan berbagi kasih, tak terbesit dalam benaknya bahwa orang yang dibantunya kelak akan membalas bantuannya, bagi oma apakah orang itu membalas atau tidak itu bukan menjadi bagiannya, sebab ketulusan yang oma tunjukan adalah ketulusan yang sebenarnya telah oma terima dari Tuhan.

Prinsip oma selama nafas masih berhembus, jantung masih berdetak, kaki masih kuat melangkah itu arti hidup harus dijalani dengan ucapan syukur, kesetiaan, pelayanan dan ketulusan dengan berlandaskan kasih.
Salah satu lagu kesukaan oma adalah bahasa kasih, bagi oma, apapun baiknya, apapun mulianya, apapun rohaninya bila tidak dilakukan berlandaskan kasih, maka semua itu tak ada gunanya. Semua harus berlandaskan kasih, karena Allah adalah kasih.

Jujur sebagai cucu aku bangga sekaligus malu dengan diri sendiri, karena aku tidak bisa seperti oma, padahal sarana dan fasilitas ada, tetapi selalu saja ada alasan untuk malas ke gereja, padahal oma untuk ke gereja kadang jalan kaki sejauh ½ km dari rumah, belum lagi dalam menyumbang, banyak juga alasan yang kukemukakan untuk tidak memberi sumbangan, sedangkan oma sekalipun harus mengurangi jatah makan, seperti dana cukup buat beli ayam, tapi untuk menyumbang oma rela hanya makan tempe, tetap akan dilakukan. Belum lagi soal ketulusan aku benar-benar gak akan pernah bisa menyamai oma.

Oma, terima kasih buat segala hal yang telah engkau teladankan, semua itu sungguh berarti bagiku, dan aku mau belajar untuk bisa seperti engkau, karena aku pun ingin kelak bila dipanggil pulang juga seperti engkau.

Oma betapa beruntungnya aku bisa mengenal dan belajar darimu, apa yang telah engkau lakukan semasa hidup kuyakin tak ada satupun yang sia-sia, karena apa yang oma lakukan adalah sebagai bukti oma sangat mengasihi dan mencintai Yesus, seperti Yesus sangat mencintai oma.

Oma tunggu aku di taman surga, karena banyak hal yang ingin aku sampaikan. Oma maafkan aku yang sering melupakanmu dalam doa-doaku karena aku lebih memikirkan diri sendiri, tapi dari dasar hatiku aku sangat menyayangimu. Dan saat ini aku sangat merindukanmu. Tuhan tolong sampaikan isi hatiku pada oma.

Hidup dan mati dalam kemuliaan atau hidup dan mati dalam kehinaan tergantung pada pilihan kita, karena hidup adalah pilihan.

Dedicate : untuk Oma Samsini Soeroso

ik@ve+1

Tertarik dengan artikel MEMAKNAI HIDUP? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 4 You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh materi dari MEMAKNAI HIDUP boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More