Antara Dion, Sarah dan Jingga part IV

sads

Pagi itu saat berada di kantor
“Ris, semalam menyenangkan sekali.” sahut Dion
“Menyenangkan gimana Dion?” tanyaku
“Jingga, benar-benar asyik ngobrol dengannya , seolah sudah seperti kenal lama.”
“Iya dia memang menyenangkan, tapi ingat jangan sampai kau mendua.”
“Hm… sudah lama juga Sarah tak menghubungiku, terakhir dia bilang lagi sibuk sekali.”
“Kalau Sarah tak menghubungimu, yah kamulah yang menghubungi dia.”
“Maunya sih begitu, tapi sulit kalau aku yang menghubungi duluan, selalu saja salah waktu, maklum perbedaan waktu di sini dan di sana signifikan sekali, makanya kenapa aku lebih aman menunggu Sarah yang menghubungi duluan.”
“Oh begitu yah masalahnya, kirain aja ada Jingga, Sarah terlupakan.”
Dion hanya tersenyum menanggapi pernyataanku tadi, setelah itu kita kembali ke meja masing-masing.

Selama ada Aura aku memang jadi jarang jalan bersama Dion dan Jingga, hampir setiap hari kuhabiskan waktu bersama Aura, mumpung dia ada di sini. Memang selama ini aku dan Aura pacaran jarak jauh karena dia kuliah di luar kota, makanya mau tak mau terbentang jarak yang lumayan jauh antara kita, Tapi itu tidak menjadi soal selama masih ada telepon dan internet, jarak yang jauh menjadi dekat, apalagi sebentar lagi Aura selesai kuliah, itu artinya sebentar lagi kita tak akan lagi terpisah jarak.

**
“Ris, aku sekarang jadian dengan Jingga.” kata Dion suatu hari padaku
“Kok bisa..??? bagaimana dengan Sarah Dion.” tanyaku dengan suara tak percaya sekaligus kecewa
“Aku berencana memutuskan dia, semakin hari perasaanku ke Sarah hambar, kesibukan dia membuatku merasa diabaikan.”
“Itu bukan alasan Dion, apakah semudah itu cinta yang telah terjalin begitu lama hilang begitu saja.”
“Ris, aku tahu aku memang salah, tapi aku tak bisa membohongi hatiku kalau aku kesepian Ris.”
“Ah terserah kamu sajalah Dion, kan kamu yang jalani, aku sih cuma bisa bilang, jangan sampai kau menyesal.”

Memang akhir-akhir ini kuperhatikan Jingga dan dion memang benar-benar mesra, kemana saja selalu berdua, persis seperti saat Dion dan Sarah dulu, tapi biar bagaimanapun aku tak habis berfikir Dion bisa dengan mudahnya melepaskan Sarah, sosok yang begitu baik, begitu sayang, begitu peduli pada Dion, Aku masih ingat bagaimana Sarah merawat Dion dulu, saat Dion mengalami kecelakaan mobil, Sarah berjuang mencari donor darah kemana-mana dan semua hanya untuk Dion, tetapi sekarang…., Dion dengan mudahnya menggantikan Sarah dengan Jingga, tak bisa kubayangkan bagaimana hancurnya perasaan Sarah, dan aku sebagai sahabat keduanya tak bisa berbuat apa-apa, karena ini sudah menyangkut masalah pribadi.

“Hai Dion apa kabarmu?” tanya Sarah dari seberang sana
“Baik-baik saja, kamu sendiri apa kabarnya?” tanya Dion balik
“Aku baik-baik saja, tapi kayaknya kamu kurang semangat begitu terima telepon dari aku Dion?”
“Ah biasa-biasa aja kok Sar, perasaan kamu aja kali.” terang Dion basa-basi
“Dion….kita telah kenal lama, kita pacaran lama, hanya kali ini saja aku jauh, tapi aku tetap bisa merasakan ada yang tak beres di sana.”
“Ah gak ada apa-apa kok Sar.” jawab Dion untuk menutupi perasaannya yang hambar ke Sarah
“Dion, jujurlah ada apa sebenarnya, bilang saja.”
“Sar, kamu beneran mau tahu yang sebenarnya?”
“Iya Dion, kamu tahu aku kan, bagaimana aku kan?”
“Baiklah Sar, kalau memang itu maumu, sebelumnya maafkanlah aku.”
“Ada apa Dion, kok hatiku jadi gak enak begini.”
“Sarah, sekali lagi maafkan aku.”
“Baiklah, ceritakan ada apa Dion.”
“Sarah, aku berterima kasih sekali atas semua yang telah kamu lakukan selama ini, kebaikanmu, perhatianmu, pokoknya semuanya, aku benar-benar beruntung memilikimu.”
“Ayo Dion teruskan lagi, jangan buatku penasaran seperti ini.”
“Sarah, maafkan aku, selama kamu sibuk, aku merasakan terabaikan, kau tahu kan aku paling tak bisa merasa seperti itu.”
“Iya Dion, maafkan aku, memang karena kesibukanku aku memang jarang menghubungimu.”
“Sarah, aku merasa hubungan kita sudah tak bisa dipertahankan lagi, perasaanku padamu semakin hambar, aku mencoba untuk terus bertahan tapi aku tak ingin menyakiti hatimu, Sarah maafkan aku.” terang Dion terbatah-batah
“Dion…..apakah benar yang barusan kau katakan tadi?” tanya Sarah dengan suara yang sangat sedih
“Sarah, maafkan aku, aku mencoba untuk menetapkan hati menunggumu, tapi aku tak bisa Sar, maafkan aku.”
“Dion…..jujur aku sedih sekali, hatiku hancur, saat ini aku menangis, tapi kalau memang itu membuatmu bahagia, aku menerima semua yang tadi kau katakan, maafkan aku karena sempat mengabaikanmu karena kesibukanku, kuharap kau bisa berbahagia, dan selamat tinggal Dion.” sahut Sarah sambil mematikan telepon.

Betapa hancur hati Sarah akan sikap Dion, lelaki yang selama ini dicintainya dan hanya satu-satunya yang ada di hati tega memutuskan hubungan cinta, hanya karena jarak yang terbentang diantara mereka. Sarah tak mengerti apa yang ada di hati dan pikiran Dion, padahal kalau mengingat semua kemesraan mereka, semua kebersamaan mereka, waktu yang telah mereka habiskan berdua, sungguh tak terfikirkan akan berakhir seperti ini. Dan malam itu Sarah melewatinya dengan menangis dan mencoba membuang semua kenangan manis bersama Dion.

bersambung…..


Tertarik dengan artikel Antara Dion, Sarah dan Jingga part IV? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 5 You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh materi dari Antara Dion, Sarah dan Jingga part IV boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More