Seketika itu

kartun

Awal masuk SMA adalah masa-masa yang tak akan pernah bisa kulupakan, saat itu aku boleh menanggalkan seragam biru dan berganti putih abu-abu, kata mama kala melihatku pertama kali memakai seragam itu adalah, Vi kamu nampak semakin dewasa sekarang, hati-hatilah dalam bergaul agar jangan sampai salah langkah dan akhirnya kau menyesal sendiri. Tak disangka itulah kalimat pertama mama untukku, sebuah nasehat yang membuatku berfikir, apakah mama menguatirkanku atau justru tak percaya padaku? Dengan sejuta tanda tanya bermain di kepala, ku melangkah menuju ke sekolah.

Ada perasaan cemas, takut, kuatir, kala menginjakkan kaki masuk ke halaman sekolah. Karena ini baru pertama kalinya, begitu banyak wajah yang asing bagiku, kecuali satu wajah, dialah Setya, teman sekelasku waktu SMP, paling enggak, di tempat yang baru ini ada yang kukenali dengan baik. Aku sendiri tak menyangka Setya bersekolah di sini, karena seingatku Setya pernah bilang mau sekolah di luar kota.
“Hai Setya” sapaku sambil melangkah ke arahnya
“Hai juga Via, tak menyangka ketemu di sini.” sahut Setya
“Justru aku yang gak nyangka kamu di sini, Set, setahuku kamu kan mau sekolah di luar kota.’
“Awalnya sih begitu, tapi orang tua belum mengizinkan, mungkin nanti kalau sudah kuliah.”
“Oh begitu.”
Tak lama bel sekolah berbunyi, para siswa baru berbaris rapi di lapangan, menunggu pengarahan dari kepala sekolah dan beberapa guru, sekaligus pembagian kelas. Dalam hati aku berharap sekali bisa sekelas dengan Setya, soalnya aku termasuk orang yang sulit bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan senangnya doaku terkabul, aku benar-benar sekelas dengannya.
“Vi, ternyata kita sekelas, jadi bisa sering belajar bareng.” sahut Setya
“Ah kamu ini bercanda atau menghibur nih, kamu kan pintar, harusnya akulah yang belajar sama kamu,”
“Makanya aku ajak belajar bareng sapa tahu bisa ketularang pintar kayak aku,” sahut Setya sambil tertawa, akupun ikut tertawa.
Memang Setya selain pintar, dia humoris banget, makanya dia punya banyak teman, sekaligus banyak yang naksir, gak heran sih, pintar iya, suka senyum iya, ganteng lagi, bisa dibilang untuk ukuran cowok, dia termasuk sempurna.

**
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa sudah satu tahun aku bersekolah di ini, selain telah banyak ilmu yang digali, akupun makin akrab dengan Setya, sempat berfikiir andai Setya mau menjadi kekasihku, pasti seneng sekali, sayang sampai sekarang Setya tidak menunjukkan tanda-tanda tertarik padaku, selain rasa persahabatan, sedangkan aku, tak bisa memungkiri tertarik pada Setya. Lelaki yang cukup mandiri untuk anak seusianya, semakin dekat dengannya, semakin ingin memilikinya, ah andai setya tahu isi hatiku ini.

Sementara di tempat lain
Setya sebenarnya juga menyukai Via, namun Setya takut bila dia mengungkapkan perasaannya, Via bukannya menerima malah akan membuat jarak dengannya, dan ini tentu saja akan sangat menyakitkan, karena itulah Setya bersikap seperti seorang sahabat, hanya demi menjaga perasaan dan menjaga kedekatan yang telah terjalin dengan manis, walau dalam hati ingin teriak, Via kamu harus jadi kekasihku, tetapi mulut ini hanya diam membisu. Setya hanya bisa mengungkapkan semua isi hatinya dalam buku jurnal pribadinya, paling enggak Setya berharap bisa mengurangi beban hatinya.

Sampai suatu hari, karena terburu-buru dan takut terlambat Setya memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba dari arah depan muncul seorang anak kecil yang hendak menyeberang, karena kaget Setya membanting setir ke kiri, namun karena masih dalam kecepatan tinggi, Setya tak mampu segera mengerem dan akhirnya menabrak pembatas jalan, helm terlepas, kepala Setya membentur aspal dan mengakibatkan pendarahan yang cukup fatal, segera orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian datang dan menolong Setya, namun sayang dalam perjalanan ke rumah sakit, Setya meninggal dunia. Ibu Setya begitu terpukul mendapat kabar dari rumah sakit bahwa anaknya telah meninggal.

Seharian ini di sekolah tak seperti biasanya, karena Setya tidak hadir, aku berencana ke rumahnya untuk membuat tugas selesai pulang sekolah. selama guru menerangkan perasaanku sungguh tak enak, tapi kutepis semua pikiran buruk, mungkin perasaanku tak enak karena aku sedang capek aja. Segera sesudah bel berbunyi, aku beranjak menuju rumah Setya, tetapi aneh rumahnya sangat ramai dan ada bendera kuning, hatiku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah Setya, jangan-jangan eyangnya kenapa-kenapa, soalnya Setya pernah cerita kalau eyangnya suka sakit-sakitan.
Dengan penuh tanda tanya aku melangkah masuk ke rumah Setya, begitu melihatku, ibunya langsung menghampiriku dan memelukku, aku heran mengapa sikap ibunya seperti itu, namun belum sempat kubertanya, ibunya telah mengatakan agar aku sabar, karena Setya telah tiada, seketika itu juga airmata membasahi kedua pipiku, kedua kakiku lemas, tak percaya bahwa Setya telah tiada. Dengan langkah gontai kumendekat ke arah peti, ternyata memang di situ terbaring orang yang sangat kusayangi.

**
Kini tak ada lagi sosok Setya yang penuh ceria, dunia seakan turut bersedih bersama diriku, memang sejak kepergian setya, langit selalu mendung.
“Halo Via, ini ibunya Setya, ada yang ingin ibu sampaikan ke kamu nak.”
“Halo bu, apa yang hendak ibu sampaikan?” tanyaku
“Pulang sekolah mampirlah ke rumah yah, ibu tunggu.”
“Baik bu.”
Dengan rasa penasaran kutunggu hingga waktu pulang sekolah tiba, aku ingin tahu apa yang hendak dibicarakan ibuanya Setya, waktu terasa begitu lambat, seolah beku. Akhirnya bel tanda pulang berbunyi juga. Segera kumenuju ke rumah Setya, begitu masuk ke rumahnya Setya, ibunya menghampiriku sambil menyerahkan sebuah jurnal
“Via, ini ibu temukan saat membereskan kamar Setya, ibu sempat membaca sekilas, begitu ada namamu, ibu segera menelpon dan memintamu kemari.”
“Terima kasih bu, jurnal ini sangat berarti, saya akan segera membacanya.”
“iya nak bacalah.”
“Kalo begitu saya pamit dulu bu, tadi belum minta izin sama orang tua.”
“baik Via, hati-hati dijalan,”
Sesudah itu akupun bergegas pulang ke rumah, ingin segera membaca jurnal itu. Bagitu masuk kamar segera kubaringkan tubuh di ranjang, dan mulai menelusuri lembar demi lembar tulisan Setya. dan mataku semakin buram saat membaca sepenggal catatan ini
Mengapa aku tak berani mengatakan apa yang ada di hatiku
bahwa aku begitu mengharapkan Via menjadi kekasihku
Hanya karena aku terlalu takut dengan pikiran-pikiran yang belum tentu benar
Aku takut jika Via tahu isi hatiku, justru dia akan menjauh dari aku
Apa mungkin kupendam saja semua ini, walau untuk itu aku harus menahan hati jika ada cowok lain yang menyukainya

Ah Setya, mengapa tak kau katakan saja, aku juga sayang menyayangimu, tapi sekarang semua tinggallah kenangan manis, yang terus terpendam bersama tubuhmu yang kini telah beristirahat dengan tenang.

Malam ini kulewati dengan derai air mata dan sejuta kenangan tentang cinta, cinta aku dan Setya yang hanya bisa terungkap lewat sebuah jurnal.

Tertarik dengan artikel Seketika itu? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
Kata kunci untuk artikel ini ยป kartun romantis, gambar kartun romantis, patah hati kartun, kartun patah hati, kartun korea sedih, korea kartun, gambar kartun patah hati, kartun romantis jepang, sakit hati kartun, kartun sendiri, gambar animasi peri galau, kartun korea galau, kartun bidadari, kartun korea persahabatan, kartun korea cinta, kartun kenangan romantis masa kecil, gambar kartun yang sakit hati, gambar kartun sedih korea, gambar kartun korea sakit hati, gambar kartun korea dan kata, gambar kartun jepang patah hati, foto kartun korea sedih, foto kartun jepang galau | Rating : 4 You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh materi dari Seketika itu boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More