Kau yang selalu di hati

2838

Sebening embun pagi yang datang memberikan kesejukan di ujung ilalang, sebening itulah kedua bola mata Bella ketika menatapku, dia sepertinya menunggu kata apa lagi yang akan keluar dari bibirku, seolah setiap kata yang kuucapkan menjadi seperti harapan yang ingin dia dengar. Memang kedengarannya aneh, mengapa Bella bersikap seperti itu, tapi itu sudah tidak menjadi sebuah keanehan lagi bagiku, karena aku telah mengetahui alasannya.

**

Seperti biasa, setiap kali pagi menjelang, aku segera bangun dan sarapan kemudian pergi menuju perkebunan teh milik ayah untuk sekedar mengawasi para pekerja di sana atau lebih seringnya menikmati keindahan pagi. Aku sangat suka berada di sana, karena selain tenang juga sejuk sekali, berbeda dengan kota tempat aku tinggal sebelumnya. Sebelumnya aku sempat menentang keinginan ayah untuk berada di tempat ini, maklum aku telah terbiasa dengan kehidupan perkotaan yang semua serba ada, tetapi sejak Vina menghianatiku, aku memutuskan untuk menerima tawaran ayah, dan ternyata setelah berada di sini selama beberapa bulan, aku malah menjadi betah dan ingin tinggal di sini selamanya. Ayah senang sekali tentang hal itu.

Vina…..adalah seorang gadis manis yang pernah singgah di hatiku, dia tidak hanya manis tetapi juga pandai, karena itulah aku tertarik padanya. Mengejarnya dan mendapatkan hatinya bukanlah hal yang mudah, karena dia memang sulit didekati tetapi akhirnya hatinya luluh juga dan masa-masa bersamanya adalah masa-masa yang penuh kebahagiaan, rasanya tak ingin sedikitpun jauh darinya, Vina benar-benar gadis yang sempurna di mataku, tetapi sayang masa-masa indah itu telah berlalu, tanpa alasan Vina meninggalkanku, dia pergi bersama lelaki lain, yang aku sendiri tak pernah mengenalnya, dan aku sendiri juga tak mengerti mengapa Vina melakukan hal itu, dan yang bisa aku rasakan sakit sekali ditinggalkan seperti itu, begitu saja tanpa memahami apapun. Aku terpuruk dalam kesedihan, sampai akhirnya aku memutuskan menerima tawaran ayah, sebab aku berharap jika jauh dari Vina dan tak melihat dia, sakit hatiku perlahan bisa terobati.

“Bara…..” Panggil ayah membuyarkan lamunanku
“Ya ayah, aku ada di sini.” sahutku
“Sedang apa kau di sana Bara, pulanglah ada teman dari kota yang mencarimu.”
“Ha… teman? siapa dia yah?”
“Ayah sendiri tak mengenalnya, pulanglah dulu sebentar.”
“Baiklah.”
Setelah itu aku segera pulang menuju rumah, Oh yah salah satu daya tarik tinggal di sini adalah, kita bisa bebas berbicara dengan cara berteriak, rasanya lega sekali bisa berbicara dengan suara lantang tanpa ada yang merasa terganggu.

Begitu sampai di rumah, aku terkejut karena yang datang adalah Vina bersama cowok selingkuhannya.
“Ada apa Vin, mencariku sampai ke sini?” tanyaku begitu berada di dekatnya
“Bara, maafkan aku telah meninggalkanmu tanpa alasan.”
“Sudahlah lupakan saja semuanya, lagian aku telah merasa bahagia tinggal di sini, yang aku heran, ada apa kamu mencariku lagi, bukankah kamu sudah ada penggantiku.” jelasku sambil memandang ke arah cowok yang berada di dekat Vina.
“oh yah kenalkan ini Alvi, sepupuku, maaf aku mengakunya ke kamu ini kekasihku.”
“ha, sepupumu, yang benar saja Vin.”
“Iya Bara, aku sepupunya Vina, aku bukan pacarnya, maafin aku juga yah selama ini ikutan Vina membohongimu, tapi kamu harus tahu alasan Vina terlebih dahulu.” terang Alvi.
Bara masih terkejut dengan ini semua, rasanya susah untuk mempercayai apa yang baru didengarnya ini.
“Ada apa ini sebenarnya?”
“Bara, aku memang terpaksa melakukan ini semua, karena aku tak ingin kamu bersedih.”
“Tapi apa yang kau lakukan telah melukai aku Vin, aku jadi tak mengerti tujuanmu melakukan itu semua adalah agar aku tak bersedih.”
“Bara, hari-hari bersamamu adalah masa terindah dan terbahagia dalam hidupku, dan akupun merasa tak ingin pisah darimu, sampai suatu hari saat hendak ke kampus, aku pingsan, saat itu yang ada di rumah adalah Alvi.
“Ya saat itu aku memang ada di rumah Vina, sekitar 15 menit menunggu Vina tak sadarkan diri, aku mengantarkannya ke dokter, dan yang mengejutkan aku ternyata Vina menderita tumor otak, dan sejak saat itu Vina memintaku agar bersandiwara di depanmu, kata Vina dia tak ingin kamu nantinya bersedih jika sewaktu-waktu vina harus pergi mendadak.”
“Vin….benarkah itu?” Tanyaku dengan suara sedih
“Benar Bara, karena itulah aku terpaksa meninggalkanmu, karena aku sayang padamu, aku benar-benar tak ingin kau bersedih.” jelas Vina sambil menangis.
Tak tahan dengan semua yang baru kudengar ini, kupeluk Vina dengan erat seolah tak ingin dia pergi lagi, kurasakan air mata Vina membasahi dadaku dan sesekali terdengar suara Vina yang sedang menangis. Seketika itu juga hilang semua amarahku, hilang semua rasa benciku padanya..
Setelah puas melepaskan semua beban di hati, Vina dan alvi mohon pamit kembali ke kota, namun belum juga kaki mereka meninggalkan rumahku, tiba-tiba Vina pingsan, aku dan Alvi bergegas membawanya ke rumah sakit yang terdekat, lama juga kami menunggu Vina sadarkan diri. Dokter yang memeriksanya menghampiri kami berdua dan mengatakan kabar yang sungguh sangat tak ingin kami dengarkan.
“Dokter, pasien telah sadarkan diri.” Panggil salah seorang suster.
Bergegas kami bertiga menuju kamar Vina
“Bara, Alvi, aku dimana sekarang ini?” tanya Vina
“Kamu di rumah sakit Vin, tadi kamu pingsan di rumahnya Bara.” jelas Alvi
Setelah itu dokter memeriksa kembali keadaan Vina kemudian meninggalkan kami bersama Vina.
“Vin…”panggilku dengan suara pelan dan terbatah menahan gejolak kesedihan yang ada di hati.
“Ya Bara….”jawab Vina.
Aku hanya diam sambil memandang wajah Vina yang terlihat pucat, vina yang dipandang seperti itu hanya memberikan senyum manis, kami berdua menikmati kebersamaan ini dalam diam dan dalam perasaan yang entah seperti apa. aku sendiri susah menggambarkan perasaan yang bergejolak di hatiku, aku senang akhirnya aku mengetahui alasan yang sebenarnya, sekaligus aku sedih karena waktu kebersamaan aku dan Vina telah semakin singkat. aku ingin selalu bisa menikmati kebersamaan ini sampai akhirnya aku haru terpisah darinya.

Setiap hari bersama Vina selalu aku nikmati sebaik mungkin, setiap kali menjenguknya aku selalu membawakan bunga yang sengaja kupetik dari kebunku, memang setelah mengetahui harus menjalani pengobatan di rumah sakit, Vina meminta izin dari kedua orang tuanya agar di rawat di rumah sakit ini, dan orang tuanya memberikan izin karena mereka ingin melihat Vina bahagia. Walau secara fisik kesehatan Vina tak mengalami kemajuan, namun kebahagiaan dan senyum selalu menghiasi hari-harinya, hingga suatu hari Vina benar-benar tak bisa lagi beranjak dari tempat tidur, kata dokter penyakitnya semakin hari semakin parah.
“Ba..ra, terima kasih untuk semua yang telah kau berikan.” sahut Vina dengan suara terbata-bata
“Vin, terima kasih juga untuk semuanya.” jawabku sambil menggenggam tangan Vina
“Ba..ra, aku lelah, ingin istirahat, maukah kau menyanyikan lagu lembut untukku? aku ingin sekali mendengarnya.”
“Baiklah Vin, aku akan bernyanyi untukku.”
Setelah itu akupun menyanyikan lagu kesukaan Vina, kulihat senyum mengembang di wajahnya, dan semakin lama pegangannya semakin longgar, air mata mengalir di kedua mataku, aku merasakan Vina kali ini benar-benar telah tertidur dalam keabadian senyumnya. Berat…..tapi aku telah merelakan Vina untuk pergi semenjak aku memutuskan untuk menemaninya di hari-hari terakhirnya.

**

“Dokter, sebentar lagi orang tua Bella akan datang ke sini.” sahut seorang suster padaku
“Ya, kan kutunggu kedatangan mereka.”
Tak lama kemudian sesuai dengan janji, mereka datang bersama Bella, seperti biasa, bening mata Bella selalu bersinar saat menunggu sebuah kata yang keluar dari mulutku.
“Bella, kamu sudah sembuh total sekarang, kamu sekarang bisa bermain lagi dengan teman-teman.”
“Terima kasih pak dokter.” jawab Bella sambil mencium tangaku.
Kedua orang tuanyapun tersenyum bahagia.

Ya sejak kepergian Vina kala itu, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah kedokteranku, aku bertekat untuk menyembuhkan banyak orang, aku bertekat untuk bisa menolong orang-orang seperti Vina. Vina telah memberikan aku semangat dan dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Senja itu setelah pulang dari rumah sakit, aku datang ke makam Vina untuk menaburkan bunga sebagai tanda terima kasih untuk semua hal yang telah dia berikan selama hidupnya.

Vina…..kau kan selalu ada di hati.

Tertarik dengan artikel Kau yang selalu di hati? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 3 You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Kau yang selalu di hati”

  1. vena says:

    suka banget sama cerpen2 disini. kata-kata yang terangkai dalam paragraf. membuatku terhanyut dan semakin hanyut didalamnya. sukses selalu ya…jangan penah berhenti nulis…
    lam kenal dari aq.. 🙂

Leave a Reply

Seluruh materi dari Kau yang selalu di hati boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More