Talk less do more

talk-less-do-more

Talk less, do more. Jika membaca judul diatas secara sepintas, kita pasti teringat dengan sebuah iklan rokok yang mengandung pesan moral. Dalam iklan itu berlatar belakang sebuah kantor yang sedang diguyur hujan deras. Ada dua orang karyawan yang ruangannya bocor dan air bocoran hujan menetes terus. Karyawan pertama mulai mengambil sebuah galon dan menggunakannya sebagai wadah bocoran air hujan, sembari memasukkan ikan di dalamnya. Sedangkan karyawan kedua sedari tadi hanya menelpon dengan berkata “Tukangnya mana?”, sampai ruangannya tergenang air pun dia hanya bilang “Tukangnya mana?”, sampai kantornya tutup, bahkan dia tidak melakukan apapun selain mengucapkan kalimat yang sama, hahahaha :D. Kalau secara logika, tidak mungkin sebuah ruangan di kantor bisa tergenang sampai seperti akuarium begitu. Lalu pada endingnya digantung tulisan “Talk less, do more“.

Walaupun itu adalah iklan rokok, kadang juga selain menganjurkan secara halus untuk tidak merokok juga ada nilai moralnya yang mengingatkan bahwa seringkali ada sesuatu yang salah dalam kehidupan kita. Cukup melihat dari kehidupan kita sehari-hari. Terkadang jika ada masalah, kita hanya akan mengandalkan orang lain untuk membantu tanpa mau mengambil inisiatif untuk mencari tahu apa yang salah sehingga terjadi masalah yang akhirnya masalah itu keburu menenggelamkan kita sebelum “tukangnya” datang ๐Ÿ™‚

Alasan lain kenapa kita tidak mau turun tangan untuk menyelesaikan masalah itu adalah mungkin kita merasa berada di tingkat yang paling atas, dan tidak rela untuk turun sedikit saja. Rasa gengsi inilah yang dapat membuat hidup kita tenggelam suatu saat. Maunya hanya menunggu dan menunggu bantuan dari orang lain yang tidak jelas kapan datangnya.

Bisa diambil contoh kecil saja, yaitu saluran air di kamar mandiku mampet. Aku tahu hal itu, tapi aku sebenarnya malas untuk memeriksa ada apa dengan saluran airnya. Aku biasa minta bantuan pada tetangga sebelah yang kebetulan ahli memperbaiki rumah. Kali ini, setiap aku menanyakan kapan bisa membantu memperbaiki saluran airnya, tetanggaku itu bilang “nanti ya, saya sedang sibuk sekarang”. Selama hampir satu minggu, jawabannya selalu sama dan saluran air itu malah makin mampet. Suatu saat aku lupa mematikan kran air, saat itu aku baru meninggalkan kontrakan selama seharian. Begitu aku pulang, betapa terkejutnya aku melihat kontrakanku seperti habis kena tsunami. Banjir dimana-mana dan barang-barangku pun terapung-apung seperti rumah korban banjir. Saat itulah aku teringat betapa malasnya aku. Kenapa tidak dari dulu aku ber-inisiatif untuk memperbaiki saluran air yang mampet itu sendiri? Kalau saja sudah kulakukan, mungkin kontrakanku tidak akan sampai begini. Maka menyesallah aku karenanya.

Pengalaman diatas kira-kira sama analoginya dengan iklan rokok tadi. Nah, bagaimana kita menyikapi masalah yang paling kecil sekalipun? Apakah kita hanya akan bilang “Tukangnya mana?” sementara masalah kecil yang ada terus mengembang dan akhirnya menjadi besar dan membuat kita kelelep? Ataukan mulai mengambil inisiatif untuk membereskannya? Semua terserah anda.

Tertarik dengan artikel Talk less do more? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
Kata kunci untuk artikel ini ยป talk less do more, talk less do more class mild, tukangnya mana, clas mild talk less do more, class mild talk less do more | Rating : 3 You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Talk less do more”

  1. haris widodo says:

    saya copas gambarnya hehe

Leave a Reply

Seluruh materi dari Talk less do more boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More