Alkisah

Alkisah di suatu tempat yang tak bisa disebutkan namanya karena memang tak tertera di peta dan juga tak terlacak lewat GPS (Global Positioning System), hiduplah seorang lelaki dan seorang wanita yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja.

Keduanya tak sengaja bertemu saat bersama-sama bermain di sungai yang airnya jernih dan sejuk, sebut saja yang lelaki bernama Satria dan yang wanita bernama Dewi, keduanya adalah orang biasa-biasa saja dengan penampilan yang biasa-biasa saja dan cara bicara biasa-biasa saja, maklum saat itu belum ada handphone apalagi Facebook, makanya mereka bertemunya di sungai yang biasa-biasa saja tapi yang pasti bukan sungai ciliwung kan sungai tempat mereka bertemu airnya jernih dan sejuk (kira-kira zaman sekarang sungai seperti itu di pulau Jawa adanya dimana yah…???) waduh jadi ngelantur, lanjut lagi yah….. Piss.

Waktu pertama kali bertemu di sungai yang bersih dan sejuk itu, Satria sedang memancing ikan, tiba-tiba sebuah selendang nyangkut di pancingannya, Satria mengambil selendang itu dan memandangnya dengan penuh takjub karena warna dan bahannya begitu indah, dalam hati Satria berkata “kira-kira selendang ini milik siapa…???” Belum selesai Satria berkata dalam hatinya, dari arah berlawan datang seorang wanita berlari dengan wajah panik, seolah takut akan sesuatu yang bakalan terjadi dan secara tak sengaja wanita tersebut tersandung dan jatuh tepat di pangkuan Satria. “Aduh maaf” kata wanita tersebut dengan wajah masih penuh ketakutan. “Tidak apa-apa.” jawab Satria yang masih kaget karena ternyata wanita tersebut begitu cantik walau dalam penampilan yang biasa-biasa saja.
“Aku harus pergi dulu, mencari selendang yang hanyut.” sahut wanita itu lagi.
“Apakah ini selendangnya?” kata Satria sambil memperlihatkan selendang yang dipancingnya tadi
“Iya benar ini selendangnya, syukurlah.” jawab wanita itu dengan wajah yang telah berubah penuh kelegaan.
“kelihatannya tadi kamu takut sekali”
“Iya, karena selendang ini milik kakak tiriku dan ini adalah selendang kesayangannya.”
“Oh begitu yah, pantesan kamu sampai ketakutan seperti itu, ngomong-ngomong boleh gak kita kenalan? namaku Satria.” Sahut Satria sambil mengulurkan tangan.
“Namaku Dewi, terima kasih karena kamu telah menolong saya.”
“sebenarnya tak sengaja juga sih aku menemukan selendangmu, karena nyangkut dipancingan ini.” jawab Satria sambil memperlihatkan pancingannya. Dewi tersenyum geli karena cara Satria bercerita disertai gerakan-gerakan peragaan sungguh lucu dan menghibur.

Singkat cerita sejak saat itu Satria dan Dewi makin dekat, ada aja alasan bagi mereka untuk bertemu, ada aja bahan cerita yang disampaikan sehingga pertemuan mereka bukanlah pertemuan yang membosankan tetapi menyenangkan dan menghibur sehingga Dewi lupa akan semua kesedihannya selama berada di rumah, maklum tahulah anak tiri selalu saja tidak diperhatikan dan tidak mendapatkan kasih sayang walau gak semua anak tiri diperlakukan seperti itu.

Suatu ketika, Dewi menceritakan semua kisah hidupnya kepada Satria, awalnya Satria gak yakin dengan kisah kehidupan Dewi tetapi setelah Satria menyaksikan sendiri dari jarak jauh, timbullah tekat Satria untuk membebaskan Dewi dari penderitaan ini, karena Satria tak bisa memungkiri kalau dia jatuh cinta pada Dewi.

Dengan semangat dan keberanian yang berkobar, Satria menuju ke rumah Dewi, di sana dia melihat Ibu dan saudara-saudara Dewi sedang asyik makan sementara Dewi tak terlihat di sana. “Permisi bu, apakaha saya boleh bertemu dengan Dewi?” tanya Satria dengan sopan.
“Maaf ini siapa yah, lagian di sini tak ada yang namanya Dewi, ini anak-anak tante semuanya ada di meja makan ini.” Ibu Tiri Dewi berkata demikian karena dia terpesona dengan kegantengan Satria dan berharap Satria menyukai salah satu dari anak-anaknya, maklumlah Satria datang dengan menunggangi kuda putih yang gagah, menunjukkan bahwa Satria bukan keluarga biasa-biasa saja melainkan keluarga kaya.
“Maaf bu, saya tetap ingin ketemu Dewi.”
“Sudah saya katakan di sini tak ada yang bernama Dewi, adanya Sinta dan Indah.” terang Ibu tiri Dewi sambil menunjukk ke arah 2 anaknya tadi.
“Baiklah kalau ibu tak ingin saya bertemu dengan Dewi, izinkan saya ke belakang, saya ingin menumpang ke belakang.”
Dengan raut wajah yang cemas karena lelaki ini akan bertemu Dewi, Ibu tiri Dewi mengatakan kalau kamar mandi sedang diperbaiki, sementara mereka berbicara tiba-tiba Dewi keluar sambil membawa ayam goreng pesanan ibu tirinya tadi ke meja makan. Akhirnya ibu tiri Dewi tak dapat lagi berbohong dan dengan terpaksa membiarkan Dewi bertemu dengan lelaki tersebut yang baru saja ibunya tahu bernama Satria.

Satria tak tega melihat penampilan Dewi yang seperti itu dan dengan tekat bulat dan sekuat baja, Satria memberanikan diri untuk membawa Dewi pergi, Ibu Tiri Dewi keberatan tetapi setelah Satria memberikan beberapa kantong uang emas, akhirnya ibu Tiri Dewi merelakan Dewi pergi. Dan akhirnya Satria dan Dewi hidup bersama dan bahagia selamanya seperti kisah Cinderela dan Putri Salju.

Tertarik dengan artikel Alkisah? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 3 You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh materi dari Alkisah boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More