Masih Terukir Namamu

Malam itu hujan turun cukup deras, hampir tak terdengar suara apapun selain suara hujan. Dingin mulai merasuk tubuh, kutarik selimut, tetapi tetap dingin ini tak mau pergi seolah ingin menemaniku melewati malam ini.
“aahhhh…. kekosongan ini begitu terasa” gumamku dalam hati sambil mendekap erat sebuah foto erat-erat di dada, dan tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipi ini, membuat hatiku menjadi jauh lebih dingin dari tubuh ini.

***

Seperti biasanya senyuman itu selalu hadir mengisi hari-hariku yang dahulu sepi dan jauh dari kata merasakan cinta. Dulu aku mengiri bahwa selama aku tak akan pernah merasakan jatuh cinta apalagi dicintai oleh seorang lelaki. Aku sadar akan keberadaanku dan kondisiku yang jauh dari kata menarik, buktinya saja sudah hampir seperempat abad tapi belum pernah namanya diapelin, hehehehe jangankan diapelin, diajak ngobrol cowok aja jarang banget dan sungguh sangat menakjubkan saja bila ada cowok yang mau datang, kenalan dan ngobrol. Kadang aku merasa bahwa cowok-cowok sepertinya tidak merasakan atau acuh dengan kehadiranku.

Tetapi semuanya berubah sejak kehadiranmu di hidupku, aku saja pertama kali mengenalmu langsung merasakan getaran aneh tetapi aku sendiri gak berani berharap banyak dan hanya bisa menganggap ini hanya hayalan bodoh yang sangat jauh dari kenyataan. Bagaimana tidak aku beranggapan demikian, baru saja langkahmu masuk ke halaman sekolah begitu banyak mata gadis-gadis cantik di sekolahku yang langsung terpaku seolah baru saja melihat seorang artis ganteng terkenal.

“Hai….apa kabar ?” sapamu saat bertemu denganku di depan kelas
“H..h..hai juga, kabarku baik-baik saja.” betapa gugupnya aku ketika disapa olehnya, suatu peristiwa langka, aku disapa cowok ganteng, bahkan ada beberapa pasang mata gadis yang tampak tak suka melihat hal ini, sementara cowok yang di depanku hanya tersenyum geli.
“Kenapa jadi gugup begini, bukankah kita teman satu sekolah” ujarnya lagi
“iya sih, ta..ta..pi aneh saja kamu menyapaku.” jawabku dengan wajah tertunduk
“apanya yang aneh, aku, kamu, kita sama kok, justru reaksi kamu bikin aku geli dan ini baru pertama kalinya aku merasa terhibur.”
“ah, kamu bisa saja, coba lihat mata beberapa gadis di sana, tampaknya gak suka bila kamu berbicara denganku.” sahutku
“ha…ha… biarin sajalah, lagian hak aku juga kan mau ngobrol sama siapa saja.”
“i…i..ya sih.”
“sudah dulu yah aku mau ke kelas dulu, oh yah ngomong-ngomong aku belu tahu namamu, aku Diaz”
“Aku Vania.”
“Sampai bertemu lagi yah Vania.”

Sepanjang jalan menuju ke kelas Diaz nampak berfikir keras mengingat-ingat tentang Vania, serasa nama dan wajah cewek tersebut tak asing, tetapi ingatannya tentang cewek itu seolah timbul tenggelam.
“ah….rasanya aku pernah mengenalnya, tetapi kapan, dimana..??? kenapa hatiku bergetar hebat saat dia menyebutkan namanya, dan wajahnya….ahhhhh…siapa dia sebenarnya.” gumam Diaz dalam hati sambil terus mencoba mengingat-ingat.

Sementara itu aku sendiri masih dalam kebingungan, kok ada yah cowok setampan Diaz mau kenalan bahkan ngobrol dengannya, apakah Diaz gak mau kalau nanti bakalan diejek oleh teman-temannya yang lain hanya karena kenalan denganku, rasanya gak adil saja jika Diaz diperlakukan seperti itu, kalau aku sih memang sudah biasa, sudah kebal, makanya gak terlalu memikirkannya, “haiks….kenapa aku jadi memikirkannya, senang sih punya kenalan baru, ganteng lagi….tapi kenapa jadi kepikiran begini yah…” gumanku sambil senyum-senyum cemas.

Keesokan harinya
Diaz tetap menyapaku seperti biasa, aku membalas dengan senyum hangat, bahkan semakin lama kita semakin asyik mengobrol, apa saja, dan menyenangkan berbicara dengannya, namun kalau aku perhatikan walaupun obrolan-obrolan kita ringan dan penuh humor, wajah Diaz tampak berfikir keras, aku sendiri bingung, mau bertanya tapi au gak punya keberanian, Diaz mau ngobrol begini saja aku sudah senang banget, bagaikan mendapat rezeki nomplok.

Ternyata
Setiap hari Diaz selalu menyapaku, hampir tak ada hari tanpa sapaan Diaz, tetapi itu dia wajahnya tetapi terlihat sedang berfikir keras, tapi sudahlah biarlah itu menjadi masalah dia, yang penting sekarang aku sudah memiliki teman yang asyik diajak ngobrol dan yang menganggap aku ada, tidak seperti yang lainnya. Tetapi mendadak aku juga memiliki beberapa teman cewek, tiba-tiba saja mereka mau mengajakku bercerita atau sekedar menyapaku, yah dipikir-pikir ada perubahanlah…namun sayang saja buntut-buntutnya minta disampaikan salam buat Diaz. Dulu sih setiap kali disampaikan salam Diaz selalu membalas, katanya salam kembali, tetapi lama-kelamaan Diaz bosan dan cenderung mengalihkan pembicaraan.

Tetapi hari ini sosok Diaz tak tampak di sekolah, senyumnya, sapaannya begitu kurindukan, hari ini terasa sepi, tak ada yang mengajak bercanda bahkan beberapa cewek yang dulu menyapaku juga ikut-ikutan diam dan keadaan kembali seperti semula. Satu hari, dua hari,…sudah 1 minggu Diaz tak menampakkan senyumannya…kemana dia. Sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini sejak beberapa hari lalu tetapi aku gak punya keberanian, tetapi jika dibiarkan saja, aku jadi penasaran. Akhirnya dengan langkah ragu dan takut-takut aku memberanikan diri ke kelas Diaz. Di sana tampak beberapa pandangan mata yang tidak suka, tetapi aku tidak peduli, aku hanya ingin tahu dimana Diaz berada, mungkin ada yang tahu alamatnya.

Tak ada yang mau memberitahukan padaku, semuanya hanya diam dan menganggapku tak ada, sampai akhirnya wali kelas Diaz masuk keruangan kelas dan dengan keberanian yang tersisa aku bertanya padanya. Untung walikelasnya baik dan memberikan alamat rumah Diaz padaku.

Keesokan harinya, dengan berbekal alamat yang diberikan wali kelasnya, aku mulai mencari dimana Diaz berada, begitu mulai memasuki halaman rumahnya, aku terdiam terpaku, tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku rasakan, aku seperti pernah mengenal tempat ini dan begitu merindukannya, tetapi apakah mungkin benar perasaan yang aku rasakan sekarang atau hanya anganku belaka, tetapi semakin aku mendekati rumah itu, aku merasakan kerinduan yang luar biasa, seperti hatiku pernah tinggal di sini, tetapi apa dan mengapa, sampai seorang wanita separuh baya membukakan pintu untukku, aku terkejut dan nyaris tak percaya dengan foto yang terpas
ang di dinding.
“sore bu, benarkan ini rumahnya Diaz?”
“benar nak.”sahut ibu itu dengan ramah
“maaf bu, boleh saya tahu foto siapakah yang terpajang di sana?”
“oh…itu foto teman kecil Diaz, dan atas permintaannya foto itu ibu pajang disana”
“Terus dimana temannya itu sekarang berada?”
“Entahlah sudah lama temennya itu pindah.”
“bu…sayalah orang itu.”
“apakah kamau Vania, nak?”
“iya bu, saya Vania, pantesan saja saya merasakan perasaan yang aneh ketika memasuki halaman rumah ini dan makin terkejut melihat foto saya disana.”
“Vania… kemana saja kamu selama ini, Diaz dari dulu mencari-carimu.”sahut ibunya sambil memelukku dengan erat.
“bu, ngomong-ngomong Diaz kemana, daritadi saya tidak melihatnya?”
Tiba-tiba ibu Diaz menangis tersedu-sedu sambil memelukku, aku sendiri bingung tak mengerti apa yang terjadi, tetapi kubiarkan saja dia menangis sampai puas dipelukkanku, siapa tahu bisa mengurangi beban hatinya. Setelah puas menangis ibu Diaz membawaku kebelakang rumahnya yang sejuk dan rindang, aku ingat dulu aku suka bermain di sini berkejaran dengan seorang anak lelaki yang waktu itu tampak kumal dan jahil, jangan-jangan anak lelaki itu Diaz, tetapi kenapa aku tak bisa mengenalnya. Sambil terus bertanya-tanya dimanakan Diaz berada, tiba-tiba ibu Diaz berhenti melangkah pada sebuah taman bunga yang indah dan kelihatannya baru saja dibuat, aku heran mengapa berhenti di sana.
“bu, Diaznya dimana yah?” tanyaku lagi.
Wanita itu hanya diam dan memperhatikan taman bunga itu, katanya “lihat bunga-bunga ini, indah bukan…?? ini bunga-bunga kesayangan Diaz.” Aku ingat dulu waktu kecil anak lelaki yang bermain denganku di sini suka memberikanku setangkai bunga ini.
“Tapi bu, Diaz dimana yah?” tanyaku makin penasaran.
“Vania….Diaz ada di sini, di taman ini.”
“maksud ibu…?? saya tidak mengerti…??” tiba-tiba ada rasa sesak di dada tetapi aku berharap ini hanya perasaanku saja.
“Diaz….Diaz….sudah pergi mendahului kita, dan sekarang dia ada di sini, sesuai permintaannya.”
“kenapa…kenapa bu…???”
“kecelakaan 1 minggu yang lalu, Diaz sempat koma dan sadar hanya saja nyawanya tak tertolong.’
Mendengar berita itu, tiba-tiba gelap menyeliputiku, dan begitu membukakan mata aku sudah berada di kamarku, dan hanya bisa terdiam sambil memeluk foto teman masa kecilku dan berharap semua hanya mimpi.

Tertarik dengan artikel Masih Terukir Namamu? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 5 You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Seluruh materi dari Masih Terukir Namamu boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More