Hati Laksana Awan

66904_1385016677641_1513240_a

Di ujung ranting itu
Terjatuh dengan lembut setitk air jernih,
Membasahi tanah yang sebelumnya telah berlinang ribuan tetesan,
Tetesan langit yang menangis,

Rumput enggan berdiri,
Menunduk melihat hujan yang turut menangis,
Bulan yang indahpun ikut bersedih,
Hanya bisa menutup mata di balik langit kelam,

Berjuta mata dan bibir,
Melihat dan berkata terbitlah kau matahari,
Usaplah air mata sang Awan putih berparas cantik itu,
Biarkan dia tersenyum tuk hilangkan kelamnya,
Agar jgn lg dia bersedih,
Yang membuat seluruh dunia tak bahagia

Biarkan awan itu menjadi selimutmu matahari,
Agar semuanya hangat dan tersenyum,
Awan yang bertangis pun berharap demikian karena sudah hilang rasa,
Terhadap bulan yang tak menghiraukannya,

Biarkanlah awan itu menyelimuti dunia dengan ukirannya yang mempercantik langit,
Biarkan dia mengekspresikan bentuk abstraknya yang tak tergapai,
Karena disitulah tertata keajaiban butiran cinta dari uap dunia,
Yang bersenggama dengan kehidupan,
Membuatnya terkadang putih dan terkadang kelam,
Laksana suasana hati yang membutuhkan terang dunia,
Menghilangkan pahitnya rasa memudarkan asa memutihkan cinta,

dan ketika awan puas dengan setiap tetesan yang turun
Di sanalah akan nampak langit biru nan elok
yang mengekpresikan hati yang kembali cerah
saat semua kabut duka itu sirna
bersama terbitnya mentari harapan

Tertarik dengan artikel Hati Laksana Awan? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
Kata kunci untuk artikel ini ยป langit menangis | Rating : 3 You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Seluruh materi dari Hati Laksana Awan boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More