Indah pada waktunya…….(sekuel tinggal kenangan)

Ringkasan sebelumnya :
Idoy menemukan kembali seorang gadis dari masa lalunya yang pernah begitu berarti dalam hatinya melalui Facebook, hal tersebut membuat Idoy teringat kembali akan masa-masa indah saat bersama Bunga, namun kenangan pahit perpisahan merekapun terekam jelas di memory Idoy, dan melalui facebook, Idoy akhirnya bisa menceritakan semua permasalahan dan penyebab mengapa mereka akhirnya berpisah, dan Idoy juga meminta maaf, dan Bungapun memaafkan dengan sepenuh hati, dan hal mengejutkan lainnya ternyata mereka saat ini telah memiliki pasangan masing-masing.
***
“Pagi Doy, hari ini sedang mengerjakan apa nih?” Sapa Donny rekan sekerja Idoy
“Pagi Don, tumben masuk tepat waktu, biasanya kan kamu selalu on time telat 5 menit, kayak pakai pesugihan segala.” Sahut idoy
“Ditanya lain, bahas lain, gimana sih Doy, lagian aku bisa datang tepat waktu seperti sekarang ini karena aku sudah menemukan jalan pintas yang bisa menghemat waktu 5 menit, lumayanlah jadinya gak perlu terlambat lagi dan pak Herman gak perlu omelin aku lagi.”
“Nah gitu dunk, jadi karyawan harus kreatif coba dari dulu kayak gini.” Ledek Idoy.
“Udah ah, diledek melulu, btw wajah kamu serius amat nih pagi-pagi begini?”
“ini lagi menyelesaikan program liburan karyawan, kamu tahulah pak Herman, kalau minta data, harus detail.”
“Emang kita mau liburan yah Doy, usul kamu kita liburan kemana?”
“Aku sih usulin liburan dalam kota saja, kamu ngertilah akhir-akhir ini perusahaan lagi sepi order, masih untung pak Herman mau memberikan kita jatah liburan, mana ada manajer sebaik dia yang masih memikirkan kebutuhan karyawannya di tengah kondisi perusahaan yang seperti ini!”
“Bener juga kamu Doy, yah setidaknya kita dikasih kesempatan untuk refresing. Oh ya Doy aku balik ke mejaku dulu yah, mau menyelesaikan laporan juga, biar bisa selesai sebelum waktu rekreasi tiba.”
“Oke deh Don, aku juga harus segera menyelesaikan semua data yang diminta pak Herman.”
Setelah itu Donny menuju mejanya dan kemudian menyalakan komputernya dan mulai terlihat sibuk dengan laporannya, sedangkan Idoy kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi. Sekitar 2 jam kemudian data-data yang diminta pak Herman telah selesai dikerjakannya, di-printnya, dan kemudian Idoy berjalan menuju ruangan pak Herman, setiba di depan pintu, Idoy mengetuk dengan perlahan
“Masuk” sahut pak Herman dari dalam. Idoy segera membuka pintu dan berjalan menuju ke tempat duduk pak Herman.
“permisi pak, semua data yang bapak minta sudah saya selesaikan, silahkan bapak memeriksa berkas-berkas ini.” Sahut Idoy sambil menyodorkan berkas-berkas yang dimaksud.
“Terima kasih, kamu silahkan tunggu sebentar, bapak akan membaca laporanmu ini” sahut pak Herman sambil membaca lembar demi lembar laporan tersebut.
“Doy, kita bisa segera wujudkan rencana refresing ini, karena selain tempatnya sesuai, harganya juga pas, mudah-mudahan setelah refresing, kinerja teman-teman ada peningkatan.”
“Iya, pak, berarti kira refresing 2 minggu lagi dari sekarang, kalau begitu saya akan segera membooking tempat tersebut.’
“Kenapa harus menunggu 2 minggu, gak minggu depan saja?”
“Karena sesuai kesepakatan minimal pemesanan tempat dilakukan 2 minggu sebelumnya.”
“Oke, kalau begitu lakukanlah”
Segera sesudah itu Idoy meninggalkan ruangan pak Herman dan menelpon untuk membooking tempat tersebut.
Tanpa terasa hari telah beranjak sore, Idoy hampir lupa kalau hari ini dia ada janji makan malam bersama Widya, kekasihnya saat ini, segera dikeluarkan ponsel dan Idoypun mulai memencet nomor yang sudah sangat dihafalnya, telepon tersambung.
“Halo, wid, kita jadi dinner, nanti aku jemput di rumahmu ya, kamu siap-siap.”
“Iya Doy, aku tunggu yah.” Jawab Widya.
Kemudian Idoy menutup sambungan teleponnya dan bergegas ke toko bunga seberang jalan untuk membeli setangkai mawar merah, kemudian dikendarainya mobilnya dengan santai menuju rumahnya. Begitu sampai di rumah, Idoy segera mandi dan merapikan diri kemudian, mengendarai mobilnya menuju ke rumah Widya. Setelah sampai di rumah Widya, Idoy segera memencet bel pintu, tak lama kemudian pintu terbuka dan Idoy terpana melihat penampilan Widya yang sangat mempesona, setelah itu mereka berpamitan pada orang tua Widya, dan segera melaju lagi menuju restaurant favorite mereka. Mobil mulai memasuki halaman parkir restaurant, Idoy mencari tempat parkir, setelah itu mereka berdua berjalan masuk ke restaurant.
“wid, kita duduk di sini saja yah.” Kata Idoy sambil menarik keluar sebuah kursi untuk Widya.
“Iya Doy, terima kasih.” Jawab widya dan mulai menduduki kursi tersebut, kemudian Idoy duduk berhadapan dengan widya, dan memberikan Widya setangkai Mawar merah yang dibelinya tadi.
“Widya ini buat kamu, bagiku kamu jauh lebih cantik dari Mawar ini, karena itulah aku sangat mencintaimu.”
“Ah idoy, kamu membuatku malu, malam ini kamu romantis banget.” Jawab Widya sambil mengambil Mawar yang diberikan Idoy tadi dan mencium wanginya.
“Widya, terima kasih karena selama ini, kamu telah menemaniku dan mengisi hari-hariku.”
“Sama-sama Idoy, terima kasih juga kamu telah menjaga dan mencintaiku selama ini.”
“Wid, aku takut kehilanganmu.”
“kenapa kamu berkata demikian Doy? Kamu terlihat dan terkesan aneh jadinya.”
“Iya.. ya.. kenapa aku bisa berkata demikian. Oh yah dari tadi kita belum memesan apa-apa, kamu ingin makan apa kali ini Wid?” tawar Idoy mengalihkan pembicaraan
“Aku terserah kamu saja, yang penting enak.”
“Oke deh kalau gitu aku pesan makanan favorite kita saja yah.” Setelah berkata demikian Idoy memanggil pelayan dan menyampaikan pesanan mereka, selesai mencatat semua pesan itu, pelayan tersebut segera menuju ke belakang untuk mempersiapkan pesanan mereka.
“Doy, sebenarnya apa sih yang membuat hatimu galau dan bicaramu tadi aneh sekali.” Selidik Widya
“ah tidak apa-apa kok aku tadi hanya kecapekan kerja makanya kurang konsen dan asal bicara saja.” Jawab Idoy memberikan alasan. Sebenarnya memang Idoy merasa bersalah kepada Widya, namun Idoy belum sanggup menceritakan semuanya, karena Idoy gak ingin melukai hati gadis itu, Widya baik, jujur, terbuka dan apa adanya, sedangkan Idoy belum semua hal dia ceritakan kepada Widya. Itulah yang membuat Idoy resah dan galau, karena Idoy bimbang untuk menceritakan semua, namun Idoy juga takut kalau kelak Widya tahu dari orang lain, justru akan membuat keadaan makin runyam.
“Bingung……” tanpa sadar Idoy bersuara agak keras, beberapa orang menoleh ke arah Idoy, Idoy yang menjadi pusat perhatian menjadi gak enak hati.
“kamu kenapa bingung Doy?” Tanya Widya dengan lembut
“Oh, maaf gak sadar tadi teriak, ini bingung soal kerjaan. Wid kayaknya aku butuh istirahat nih, nanti setelah makan malam, aku antarkan kamu pulang yah.” Jelas Idoy
“Iya Doy, gak papa, kamu memang membutuhkan banyak istirahat, moga aja, kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik yah, supaya kamu gak bingung seperti ini.”
“Terima kasih banyak yah Widya pengertianmu.”
Tak lama kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka tadi, dan mereka berdua menyantap hidangan tersebut tanpa banyak berbicara, mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing-masing, Idoy dengan pikirannya dan Widya dengan pertanyaan yang berkecambung di benaknya tentang sikap Idoy barusan tadi. Setelah selesai makan, Idoy mengantarkan Widya pulang. Dan Idoypun langsung pulang ke rumah. Dihempaskan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba untuk segera tidur, namun pikirannya tak mau diajak kompromi.
“Waaaaah, kenapa sulit banget memejamkan mata ini, oh Widya aku merasa telah menjadi orang yang jahat buat kamu, aku belum sepenuhnya terbuka padamu, dan keadaan ini sungguh menyiksaku sendiri, karena dulu kita sepakat untuk saling jujur dan terbuka, kamu sudah begitu terbukanya padaku, sedangkan aku, kenapa aku belum bisa menceritakan semua hal padamu Widya.” Jerit Idoy dalam hati. Dan tanpa terasa hari telah menjelang pagi Idoy hanya bisa memejamkan mata 2 jam, maunya cuti kerja hari ini, tapi apa daya masih ada laporan yang harus segera diselesaikan. Akhirnya dengan perasaan malas Idoy mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke kantor, saking buru-burunya Idoy hanya sempat meminuh segelas teh hangat saja, setelah itu Idoypun melaju menuju kantor.
“Pagi Doy, kusut banget hari ini?” sapa Donny begitu dilihatnya idoy berjalan menuju ke mejanya
“Pagi Don, tadi malam kurang istirahat, makanya jadi kurang semangat buat kerja hari ini.” Jelas Idoy
“Makanya Doy, urusan kantor selesaikan di kantor, jangan bawa pulang ke rumah, apa gara-gara mau liburan makanya kamu pengen menyelesaikan semuanya ya?”
“ah enggak juga kok, tapi memang lagi kurang istirahat aja.”
“Kalau gitu ke kantin sebentar buat sarapan, sapa tahu setelah sarapan kamu bisa lebih kelihatan segar.”
“tadi sudah sarapan, lagian aku gak lapar, ayo semangat selesaikan laporan 2 minggu lagi kita mau liburan.”
“tadi lemas, kusut, sekarang kok jadi kayak gini yah, apa ini efek mau liburan yah, ternyata baru rencana aja udah bisa membuat orang seperti ini, apalagi kalau udah benar-benar liburan.”
“iya kali yah, udah ah, ayo kerja, tuh teman-teman yang lain sudah pada datang.”
Kesibukan selama hari-hari menjelang liburan begitu terasa, setiap karyawan berusaha untuk benar-benar menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum waktu liburan tiba, maklum walau tubuh liburan tetapi pikiran ke perkerjaan, kita gak bisa benar-benar menikmati liburan
***
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga yaitu liburan tahunan perusahaan selama 3 hari di daerah pegunungan. Terlihat setiap karyawan membawa serta anggota keluarganya, kecuali mereka yang masih single hanya datang sendirian, begitu juga dengan Idoy dan Donny, datang sendiri, walau saat itu Idoy telah memiliki kekasih, hal ini jelas membuat Donny heran, mengapa saat liburan seperti ini Idoy malah datang sendirian.
“Doy, Widya kok gak diajak?” Tanya Donny
“Sengaja, aku lagi butuh waktu sendiri maksudnya tanpa Widya untuk merenung dan berfikir.” Jawab Idoy
“Kok sampai segitunya sih? Jangan-jangan ada hal-hal yang kamu sembunyikan dari Widya yah?”
“soal itu ntar malam aku ceritakan, sekarang kita bantu rombongan lainnya untuk pembagian kamar tidurnya.’
“oke Doy”
Setelah itu mereka berdua mulai mengatur rombongan, mengecek nama orang-orang yang ikut, dan mulai melakukan pembagian kamar, setelah itu mereka mempersilahkan tiap orang untuk mulai menempati kamanya.
“Akhirnya beres juga, istiahat sebenta yuk sambil minum kopi hangat.” Ajak Idoy
“Oke Doy, capek tapi menyenangkan, mengingat ini kan acara liburan perusahaan kita.” Sahut Donny
“Tul banget, yuk kita buat kopi sebentar terus duduk lagi di sini.’
“Siip dah”. Setelah itu keduanya beranjak menuju ke dapur dan mulai membuat kopi, tak lupa Idoy mengeluarkan cemilan yang dibawanya tadi, setelah itu keduanya kembali ke beranda, untuk menikmati kopi dan cemilan.
“Oh yah Doy tadi katanya mau cerita-cerita? Sapa tahu aja setelah cerita perasaan kamu lebih lega”
“Makasih yah Don atas sarannya, sebenarnya aku merasa gak enak hati ama Widya, dan hal inilah yang membuat aku merasa menjadi orang munafik saat berada di dekat Widya, dan sungguh gak nyaman merasa seperti ini.”
“Memangnya ada apa Doy, kalau kuperhatikan sikap Widya, tetap baik dan sayang padamu.”
“Memang sikap Widya tetap sama seperti dulu ke aku, tapi aku melihat pancaran kesedihan di matanya, walaupun dia tidak berbicara apa-apa.”
“Berarti dia bisa merasakan bahwa kamu menutupi sesuatu darinya Doy”
“Kamu benar Don, sebenarnya bukannya aku mau menyembunyikan darinya tapi aku merasa belum saatnya.”
“Makin cepat makin baik Doy.”
“Aku juga maunya seperti itu, tapi tetap aja butuh waktu supaya apapun yang aku sampaikan jangan sampai melukai perasaan Widya, aku gak bisa membayangkan bila akhirnya aku kehilangan dia.”
“Begitu rumitkan masalah kamu ke Widya?.”
“Ini ada hubungannya dengan masa lalu aku Don, sesuatu yang belum pernah aku ceritakan kepada Widya, aku pikir aku bisa sejenak melupakan masa lalu ini, tertapi ternyata tidak Don, semakin aku berhadapan dengan Widya, semakin aku dituntut untuk terbuka apa adanya padanya.”
“Sebenarnya sih aku gak ingin ikut campur, namun kalau berbagi itu meringankan, bolehlah kamu berbagi denganku.”
“Iya Don, aku memang mau menceritakan hal ini padamu. Dulu sebelum aku bertemu dengan Widya aku pernah jatuh hati pada cewek lain, dan aku benar-benar mencintainya, tetapi sayang hubungan kita tidak direstui, akhirnya aku memutuskan pergi jauh dari hidupnya dan dari bayang wajahnya, karena bila aku terus melihatnya hatiku makin terluka karena tak bisa bersamanya. Ahirnya aku memutuskan merantau ke kota lain. Selama dalam perantauan, ternyata aku bisa sejenak melupakan, namun aku terjebak pada cinta yang lain.”
“Maksud kamu, kamu ketemu gadis lain yang bisa membuatmu jatuh hati?”
“Benar banget Don, dan gadis ini bukan gadis biasa, melainkan saudaraku sendiri, dan aku heran kenapa aku bisa menyukai saudaraku itu.”
“Terus gimana dengan reaksi saudaramu itu?”
“Dia ternyata menyukaiku juga, akhirnya kita pacaran secara sembunyi-sembunyi, cukup lama kita menjalin cinta ini, namun pada akhirnya aku menyadari ini tidak benar, karena aku menjalin kasih dengan saudaraku sendiri.’
“Terus apa yang kamu lakukan, bukankah kalian saling menyukai?”
“Akhirnya sekali lagi aku memutuskan untuk pergi dari orang yang aku sayangi dan berharap waktu bisa membuatku lupakan akan semuanya. 2 kali aku melakukan hal yang sama yaitu pergi lari.”
“Sebenarnya sih kurang jantan juga apa yang kamu lakukan, tapi kadang langkah terbaik adalah menghindar daripada menimbulkan konflik.”
“Yup, itulah yang ada dalam pikiranku saat itu, namun ternyata hal itu cukup menjadi beban dalam hidupku, gimana kalau Widya tahu hal ini Don, penilaian seperti apa yang akan dia berikan padaku? Kamu saja bisa mengatakan aku kurang jantan, apalagi dia yang adalah seorang gadis.”
“Doy, bisa saja apa yang ada dipikiranmu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran Widya, bukankah kamu belum menceritakan hal ini.”
“Don aku hanya memprediksi hal yang paling buruk saja, kalaupun kenyataan berbeda dengan apa yang aku pikirkan, tentu hal itu akan membuatku tenang, tetapi bila ternyata yang terjadi seperti apa yang aku pikirkan, paling enggak aku dah mempersiapkan diri.”
“Doy, lakukan saja apa yang menurutmu benar, aku akan mendukungmu.”
“Terima kasih yah Don, oh yah dah larut malam, kita istirahat, besok kita mulai petualangan liburan ini, saat ini perasaanku lega, bisa berbagi denganmu, sobatku.” Sahut Idoy sambil menepuk pundak Donny, dan Donnypun tersenyum, mereka berdua beranjak menuju kamar masing-masing.
Baru beberapa saat hendak tidur, ponsel Donny berdering, ada sebuah SMS mampir di sana, Donnypun mulai membukanya, kaget juga dapat SMS dari Widya.
“Maaf Don, malam-malam, SMS kamu, aku hanya pengen tahu kabar soal Idoy, apakah dia baik-baik saja?”
“Malam juga Wid, Doy baik-baik saja, tumben kamu menanyakannya ke aku, gak SMS langsung ke Idoy?”
“Mmm, sebenarnya pengen Tanya langsung tapi aku merasa Idoy gak bakalan mengatakan yang sebenarnya.”
“maksud kamu gimana Wid?”
“Aku merasa Idoy tak lagi terbuka padaku, itulah kenapa aku ga ingin menanyakan kabarnya langsung.”
“Wid, mungkin dia butuh waktu untuk menceritakan semuanya padamu.”
“Mungkin kamu benar juga Don, tapi sampai kapan?”
“sampai dia menemukan waktu yang tepat. Percayalah Idoy sangat mencintaimu Wid.”
“Andai aku bisa menyakinkan diriku, tapi sudahlah mungkin aku memang harus member dia waktu untuk mengatakan semuanya, Don maaf yah malam-malam gini malah curhat, aku tidur dulu yah, selamat malam dan terima kasih.”
“Gak papa kok Wid, aku senang kamu percaya ama aku, met istirahat juga yah.”
Setelah itu Donny mematikan HP dan beranjak tidur.
Keesokan pagi
“Doy, semalam Widya sms aku.”
“SMS soal apa, kok dia gak sms aku yah?”
“Itu dia, kayaknya dia mulai merasa tidak dicintai lagi karena sikapmu yang menutupi permasalahanmu padanya.”
“Don, kamu tahu kan aku hanya butuh waktu dan saat yang tepat.”
“Benar Doy, tapi…….. saranku lebih baik segera kamu segera ceritakan ke Widya, soalnya dari cara Widya SMS aku dia bener-bener merasa gak nyaman dengan kondisi ini.”
“Baiklah Don, mengingat demi kebaikan aku dan Widya, pulang liburan ini aku akan bicara langsung dengannya.”
“Nah, gitu dong, sekarang kita mancing aja yuk, lumayan kalau dapat nanti malam kita BBQ hehehhe.”
“Usul yang baik tuh”
Keduanya segera menuju tempat pemancingan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka menginap. Setelah mendapat tempat yang cukup nyaman keduanya mulai memasang umpan dan melemparkan kail ke kolam, hanya beberapa menit saja, kail Idoy sudah bergerak-gerak, ditariknya alat mancingnya dan
“Asyik dapat ikan gurame, gede lagi, mantap banget.”
“Mmm..tunggu aja Doy, bentar lagi aku juga dapat ikan kok” sahut Donny dengan wajah pura-pura sebel.
“Coba aja Don, makin banyak makin baik, biar puas pestanya hehehehe.”
Benar juga tak berapa lama kemudian giliran pancingannya Donny yang bergerak-gerak.
“Doy bantuin narik dong, gile berat banget.”
“Oke Don tunggu, tahan.”
Keduanya mulai menarik pancingan Donny dengan sekuat tenaga dan benar saja, ikan yang diperoleh lebih besar dari punya Idoy.
“Waaah kita benar-benar pesta besar ntar malam nih.”
“kayaknya sudah cukup tangkapan kita hari ini, balik ke penginapan n persiapan BBQ buat entar malam.”
“Oke bos.”
Keduanya pergi meninggalkan penginapan sambil membawa hasil tanggapan mereka yang benar-benar memuaskan, dan begitu sampai di penginapan keduanya mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara BBQ ntar malam, sekaligus malam terakhir mereka rekreasi. Tak terasa hari telah beranjak sore, persiapan telah selesai dilakukan, peserta yang lainnyapun mulai berdatangan di tempat acara BBQ. Acara di mulai dengan perlombaan antar karyawan, kemudian pembagian hadiah, BBQ dan api unggun. Selama acara berlangsung Idoy tampak kurang menikmatinya. Donny tahu apa yang ada di kepala Idoy, maklumlah mereka sudah berteman cukup dekat.
“Doy, mikirin besok mau bertemu Widya dan menceritakan semuanya yah.”
“Yup Don, sebenernya aku belum siap, tapi yah daripada membuat Widya makin gak tenang, yah terpaksa siap gak siap besok aku akan menceritakan semuanya.”
“Tenang aja Doy, aku akan selalu mendukungmu.”
“Thanks yah Don”
Hari beranjak semakin larut malam, acarapun telah berakhir dan masing-masing kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena besok adalah persiapan kembali ke rumah masing-masing.
Hari beranjak pagi, kesibukan telah terlihat dari setaip penghuni kamar yang mulai melakukan pengepakan barang-barang bawaaan mereka, sebelum meninggalkan kamar Idoy mengingatkan untuk mengecek lagi barang-barang bawaan sebelum meninggalkan kamar dan berjalan menuju kendaraan yang telah tersedia untuk mengantarkan mereka ke kantor. Sepanjang perjalanan menuju kantor Idoy lebih banyak terdiam memikirkan kata-kata apa yang harus dia sampaikan saat bertemu dengan Widya, sementara Donny tertidur pulas di bis karena kecapekan. Akhirnya setelah 4 jam perjalan sampai juga mereka di kantor, Idoy segera membangunkan Donny. Satu persatu para peserta rekreasi itu mulai meninggalkan kantor setelah selesai doa bersama.
“Don, aku pulang dulu yah, gerah mau mandi dan entar malam mau ketemuan ama Widya”
“Oke Doy, hati-hati dijalan yah.”
Kedua sahabat itu akhirnya berpisah dan pulang ke rumahnya masing-masing.
**
“Pagi Wid, aku baru aja sampai rumah, ntar malam aku jemput yah.”
“Pagi juga Doy, jangan ntar malam kamu kan baru aja pulang pasti capek banget.”
“Gak papa Wid, kan sekarang aku bisa tidur sampai sore, terus malamnya kita ketemuan yah”
“Oke deh kalau begitu, met istirahat Doy.”
Setelah selesai menelpon Widya, Idoypun beranjak menuju tempat tidur untuk istirahat.
Sementara itu Widya bingung kenapa tiba-tiba Idoy pengen segera bertemu dengannya, apakah Donny telah menceritakan semua keluh kesah dia pada Idoy, atau emang Idoy kangen padanya, tapi kalau kangen kenapa nada suaranya tadi begitu datar, ah pusing mending nunggu entar malam saja.
“Selamat malam tante, Widya ada?” Tanya Idoy setelah pintu rumah Widya dibuka dan Nampak ibunya Widaya yang membukakan.
“Selamat malam nak, silahkan tunggu sebentar yah, tante panggilkan Widya.”
“Terima kasih tante, oh ya ini ada oleh-oleh buat tante dan om”
“Wah nak Idoy gak usah repot-repot segala.”
“gak papa kok tante.”
Setelah itu mamanya Widya memanggil Widya untuk segera menemui Idoy. Widya yang mendengar panggilan mamanya segera keluar dari kamar menju ke ruang tamu tempat Idoy menunggunya, Tak lama kemudian keduanya pamitan kepada orang tua Widya. Mobil melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah Widya yang sangat asri menuju café favorite mereka. Di tempat itu suasana terlihat ramai, namun Idoy telah memesan tempat yang cukup nyaman untuk mereka berdua berbincang-bincang. Pelayan segera datang mengantarkan buku menu, Idoy dan Widya segera memesan makanan kesukaan mereka, pelayanpun pergi meninggalkan mereka.
“Wid, maafkan aku karena telah membuatmu bertanya-tanya akan sikapku selama ini, aku sadar apa yang aku lakukan hanya akan membuatmu resah.”
“Doy, dulu kita sudah berjanji untuk saling terbuka, aku telah menceritakan semua hal tentangku, namun saat aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu hatiku jadi sedih.”
“Maafin aku Wid, aku tak bermaksud menyembunyikan apapun darimu, hanya aku butuh waktu karena bagiku tak mudah mengatakan itu padamu.”
“Doy, buatku kejujuranmu jauh lebih penting daripada bagaimana kamu merangkai kata-kata manis untuk menghiburku, katakan saja apa adanya itu jauh lebih baik.”
Pembicaraan mereka terhenti sebentar karena pelayan telah datang mengantarkan pesanan mereka, setelah pelayan itu pergi meninggalkan mereka, Idoy mulai menceritakan semuanya kepada Widya, mengenai mantannya yang berpisah dan bertemu kembali, alasan Idoy berpisah dengan mantannya juga, kisah cintanya Idoy dengan saudaranya, semua diceritakan secara tuntas, Widya yang mendengarkan Nampak kaget, namun Widya dengan cepat menutupi kekagetannya tersebut.
“Widya, semuanya sudah aku ceritakan padamu, sekarang terserah kamu, baiknya gimana.”
“Doy, jujur aku kaget dan gak percaya dengan semua ceritamu tadi, namun di sisi lain, aku lega karena kamu akhirnya terbuka juga padaku, aku jauh lebih senang dengar berita ini dari bibirmu sendiri ketimbang dari orang lain, tapi….”
“Tapi kenapa Wid, sebenarnya aku belum sanggup menerima resiko kehilanganmu akibat kisah masa lalumu, namun aku jauh lebih gak tahan mendengar kegelisahanmu dari Donny, karena itulah aku putuskan untuk segera mungkin menceritakan ini padamu.”
“Doy, sabar dulu, aku belum selesai bicara, dah kamu potong, mana wajahmu terlihat lucu kalau gelisah begini.”
“tapi apa Wid, sekerang giliran kamu yang membuat aku gelisah.”
“yah itung-itung kamu ikut merasakan betapa gak enaknya perasaan seperti itu,”
“Iya Wid, aku sungguh-sungguh minta maaf.”
Sebenarnya tadi Widya mau marah namun melihat wajah Idoy yang memelas seperti ini Widya jadi ingin tertawa, namun ditahannya, karena dia gak ingin Idoy makin gak tenang dan bertanya-tanya.
“Tapi aku ingin kamu melakukan satu hal penting sebelum aku memutuskan bagaimana hubungan kita selanjutnya.”
“Maksud kamu aku harus melakukan hal apa Wid?”
“Berjanjilah bahwa ini adalah terakhir kalinya kamu membuat gelisah hati seorang gadis.”
“iya aku berjanji dari lubuk hatiku yang paling dalam, setelah itu apalagi Wid.”
“Cuma itu saja, aku gak minta banyak hal darimu.”
“Widya, aku sadar aku gak bisa terlalu banyak berharap setelah apa yang aku lakukan padamu, namun bagiku kamu adalah gadis yang begitu berarti dalam hidupku. Namun aku pasrah apapun keputusanmu aku terima dengan lapang dada.” Ucah Idoy terbata-bata.
“Idoy, aku mengenalmu dan memutuskan menerimamu sebagi kekasih sudah cukup lama, banyak hal sudah kita lewati bersama, dan aku juga sangat beruntung menjadi bagian terindah dalam hidupmu, bersamamu adalah hal yang sangat menyenangkan, dan aku gak akan meninggalkanmu hanya karena masa lalumu, karena bagiku mencintaimu adalah menerimamu apa adanya, aku hanya sedih mengapa baru sekarang kamu menceritakannya padaku, tapi ketulusanmu dan kesungguhanmu serta keberanianmu untuk menceritakannya padaku, membuatku semakin yakin akan cintamu padaku, jadi aku mohon jangan diulangi lagi.”
“Widya….. kamu benar-benar wanita luar biasa yang aku miliki, dan aku janji tak akan lagi menyembunyikan apapun darimu.” Idoy begitu bahagia mendengar apa yang diucapkan Widya, dan seketika itu juga semua kekuatiran yang dipendamnya sirna berganti dengan cahaya pengharapan cinta sejatinya dengan Widya. Dan yang terpenting bagi Idoy, Widya mencintainya apa adanya.
“Widya, maukah engkau menjadi istriku?”
Widya yang tiba-tiba dilamar oleh Idoy menjadi bingung, karena Widya sungguh tak mengira Idoy akan melakukannya di café yang sedang ramai, beberapa pasang mata memandang kearah mereka dan memberikan semangat agar Widya menerima lamaran Idoy, Widya yang diperhatiakn sedemikian rupa menjadi lebih gugup dari sebelumnya.
“Widya, maukah engkau menjadi istriku, menjadi ibu bagi anak-anakku?”
“terima…terima…terima…” beberapa pelanggan mulai berteriak semangat kepada Widya.
“Idoy, aku bersedia.’
“Hore…….selamat yah….selamatnya.” kembali para pelanggan bersorak dan satu persatu menghampiri mereka berdua untuk memberikan selamat.
Sementara MC di atas panggung memanggil mereka berdua untuk naik, dan mempersembahkan sebuah lagu dari Andra and the backbone
Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku, akan slalu memujamu
Di setiap langkahku, ‘ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku, takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu, ‘ku akan bisa
Kau adalah darahku, kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu, sempurna
Kau genggam tanganku, saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikan kata dan hapus semua sesalku
Janganlah kau tinggalkan diriku, takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu, ‘ku akan bisa
Kau adalah darahku, kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu, sempurna

 

Cinta sejati hanya hadir melalui penerimaan yang tulus, keterbukaan dan saling percaya.
Sekian
ik@ve+1

Tertarik dengan artikel Indah pada waktunya…….(sekuel tinggal kenangan)? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 5 You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh materi dari Indah pada waktunya…….(sekuel tinggal kenangan) boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More