Tinggal kenangan

Pernah ada rasa cinta
Antara kita kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan semua tentang dirimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh Bintangku…..

 

Sepenggal bait lagu yang dinyanyikan grup Caramel membawa Idoy pada kenangan masa lalu, saat masih bersekolah di SMK. Memory ini timbul kembali setelah Idoy menemukan 2 nama cewek yang pernah begitu special di hatinya di Facebook.
Biasanya sebelum memulai aktifitas kerja, Idoy menyempatkan waktu sebentar untuk sekedar mengecek pesan di Facebooknya atau menulis status baru tentang perasaannya atau aktivitasnya hari itu. Dan betapa terkejutnya saat melihat di list friends suggestion, muncul 2 nama dan 2 wajah yang begitu diharapkan beritanya. Memang selama ini Idoy berusaha mencari kabar tentang mereka berdua, tetapi tak pernah ketemu, namun beda dengan hari ini, benar-benar kejutan yang menyenangkan juga meresahkan.
“Hmm…. Akhirnya kutemukan juga, tetapi kenapa harus seperti ini, kenapa hati ini jadi gak menentu, aku bahagia tetapi aku juga sedih.” Gumam Idoy sambil menghela nafas dalam-dalam.
****
Seperti biasa, setelah bangun tidur, Idoy berdoa pagi kemudian mandi baru sarapan, dicek lagi kerapian seragam sekolah dan perlengkapan sekolahnyanya sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya.
“ma, aku berangkat dulu yah” sahut Idoy sambil mencium tangan mamanya
“Iya Do, yang rajin belajarnya yah, dan jangan lupa pulang sekolah mampir ke swalayan untuk beli susu.” Sahut mamanya sambil memberikan beberapa lembar uang 50.000 an kepada Idoy.
“Iya ma, nanti aku belikan.”
Tak lama kemudian motor telah melaju meninggalkan rumah. Jalanan pagi itu masih sepi, Idoy mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, lagian dia juga gak perlu buru-buru karena waktu bel masuk masih cukup lama. Idoy menikmati pemandangan disepanjang perjalanan menuju ke sekolah, dan ini juga salah satu alasan mengapa dia ingin bersekolah di SMK, selain untuk menimba ilmu, juga karena lokasi sekolah yang indah. Itung-itung selain belajar bisa refresing. Gerbang sekolah telah terlihat, segera setelah memakirkan motornya, dia masuk ke dalam kelas, di sana sudah ada beberapa temannya yang lain, yang sedang membersihkan ruangan kelas.
“Pagi. Ria, Billy, Mei” sapa Idoy
“Pagi juga Doy” sahut mereka serempak
“ wah kalau semua petugas piket rajin seperti ini, bisa-bisa kelas kita dapat penghargaan soal kebersihan dan disiplin” sahut Idoy
“Hehehe, bisa aja kamu Doy.”sahut Mei
Satu persatu murid-murid yang lainnya pun berdatangan, tugas kelompok Mei membersihkan ruangan juga sudah selesai. Tak berapa lama kemudian bel tanda mulai mata pelajaran pertama berbunyi.
“selamat pagi anak-anak semua” sahut bu guru
“Selamat pagi bu.” Sahut murid-murid serempak
“Sekarang keluarkan PR minggu kemarin, dan kamu Idoy, kerjakan soal nomor 1 di depan kelas”
“Baik bu.” Setelah itu Idoy maju ke depan dan menuliskan soal serta jawabannya di whiteboard, ibu guru beranjak dari kursinya dan mulai memeriksa hasil pekerjaan Idoy.
“Bagus, Idoy, sekarang kamu bisa kembali ke tempat dudukmu.” Setelah itu ibu guru menjelaskan jawaban Idoy tadi kepada murid-murid yang lainnya, kemudian ibu guru memanggil siswa lain lagi untuk mengerjakan nomor 2 begitu seterusnya, tanpa terasa bel tanda istirahat berbunyi.
“Anak-anak, sekarang kalian boleh istirahat, jangan lupa untuk mengerjakan PR untuk minggu depan.”
“baik bu guru” sahut murid-murid serentak kemudian dengan teratur keluar ruangan.
“Billy, kita ke kantin yuk, dah laper banget nih” ajak Idoy
“Oke aja, tapi sayang hari ini aku bokek, gimana dunk?” Tanya Billy
“Udahlah itu mah masalah kecil, karena aku yang ajakin, aku yang bayarin, tapi lain kali gantian yah.”
“Oke, Doy”.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke kantin, Di sana hampir penuh, untung saja masih ada 1 meja kosong dengan 4 kursi, Billy segera mendudukinya, sementara Idoy menuju ke sang penjual untuk memesan makanan, setelah itu Idoy kembali ke tempat dimana Billy sedang duduk.
“Billy, bentar lagi pesanan kita datang, aku pesan nasi goreng babat dengan es jeruk, mantap gak.”
“mantap banget Doy, tahu aja nih kesukaanku.”
Sementara itu di sudut lain dari kantin ini
“Del, jangan makan terlalu banyak entar gendut loh” sahut Gadis
“Ah kamu itu Dis, terlalu banyak komentar, kalau gendut kan tinggal diet lagi” timpal Delly
“Iya nih Dis, sekali-kali manjakanlah lidahmu, masak makan buah melulu.” Sahut Bunga
“Bener tuh kata Bunga Dis, diet sih diet tapi gak perlu sampai segitunyalah.” Sambung Vita
“Iya deh, ibu-ibu bawel, ntar aku pesan makanan yang enak deh, tapi ingat kalau aku melar kalian bertiga tanggungjawab.” Timpal Gadis. Kemudian dia berjalan menuju ibu kantin untuk memesan menu special hari ini yaitu gado-gado.
Mereka berempat adalah sahabat dekat, kemana-mana selalu berempat, dan mereka juga terkenal selain karena kekompakannya juga karena kepintarannya, apalagi Bunga kemampuan bahasa Inggrisnya sangat bagus, tapi sayang dia lebih suka berkelut dengan hitungan daripada kemampuan bahasanya, makanya dia mengambil jurusan akuntansi di SMK ini.
Idoy yang memperhatikan keempat cewek tersebut, jadi jatuh hati, maklumlah selama ini Idoy terkenal sebagai cowok yang mudah suka terhadap cewek, terutama kalau cewek tersebut terlihat berbeda dan menonjol, dan kali ini pandangan Idoy hanya tertuju pada Bunga, yang sedang bercengkerama dengan sahabat-sahabatnya, Billy yang mengenal benar sifat sahabatnya ini langsung menebak.
“Hayo cewek sapa lagi nih, yang jadi inceranmu, kemarin Linda, sebelumnya Susan, terus sekarang kamu lagi memperhatikan keempat cewek tersebut.” Sahut Billy
“Billy, gila kamu tahu aja nih.” Sahut Idoy
“Gimana gak tahu, mata kamu itu loh, kalau lihat cewek yang gimana gitu, jadinya melotot seperti mau lepas, dan hal itu sudah kuamatin selama ini.”
“wah berarti aku gak bisa menyembunyikan rahasia sama kamu dunk yah.”
“Yuppi, makanya kamu ceritakan saja, toh kita juga temenan kan, n satu lagi kalau aku naksir cewek kamu jangan ikutan naksir dia yah, bisa duel kita.”
“Oh tenang aja Bill, soalnya kali ini tuh cewek bakalan jadi cewek terakhir yang kuincar jika dia jadi pacarku nanti.”
“Cewek mana yang kamu maksud Doy? Kan ada empat tuh!”
“Itu yang pakai bando coklat, si Bunga, dia sungguh nampak berbeda dari cewek-cewek lain yang pernah kutemui.”
“Dulu waktu kamu kenal Susan, kamu bilang begitu, ke Linda juga gitu” goda Billy
“Tapi kali ini berbeda Bil, selama ini aku telah mengamatinya mulai dari pertama kali dia menginjakkan kakinya di sekolah kita, itupun secara gak sengaja, waktu itu ada acara pengenalan siswa baru, terus mereka disuruh mengumpulkan tanda tangan dari kakak-kakak tingkat, nah waktu itu dia menghampiriku mau minta tanda tangan, aku kerjain kalau mau dapat tanda tanganku mintanya harus pakai bahasa Inggris, eh gak tahunya bahasa Inggrisnya lebih bagus dariku plus cara bicaranya saat berbahasa Inggris enak banget, sampai-sampai aku mengira dia pernah tinggal di luar negeri, ternyata enggak, dia bisa lancar berbahasa Inggris hanya karena dia suka nonton film Hollywood, kemudian dia bandingkan antara dialog para pemain dengan teks terjemahan. Benar-benar gak kubayangkan.”
“wah sampai segitunya Doy, kamu puji-puji dia.”
“bukan memuji tapi memang seperti itu, dan sejak saat itu aku selalu mencari informasi tentang dia, tanpa sepengetahuanmu, dan tambah hari aku tambah ingin lebih mengenalnya, kalau bisa yah menjadikan dia pelabuhan terakhirku.”
“Wah ternyata, playboy bisa insaf juga yah, hehehehe”
“Sapa yang playboy, aku kan Cuma pengagum wanita, yang adalah salah satu ciptaan Tuhan yang terindah.”
“Nah loh kumat lagi gombalnya, untung Tuhan jadikan aku sebagai seorang cowok, kalau enggak bisa makan hati tiap hari, kalau sampai pacaran ama cowok macam kamu gini.” Sahut Billy sambil tertawa ngakak. Idoy mendaratkan tinju ringan di bahu Billy karena kata-kata barusan tadi.
“Bil, hari ini Bunga tampak beda banget, sebelumnya aku tak pernah melihat dia pakai bando ke sekolah, rambutnya selalu diikat, tapi sekarang, rambutnya dibiarkan tergerai, benar-benar bikin mataku tak bisa berpaling darinya.”
“Doy, kalau lihat kamu lagi kasmaran gini, tiba-tiba perutku mulas, soalnya kamu mendadak bisa mengarang gini, padahal biasanya kalau ada tugas mengarang dari ibu guru, kamu selalu ngeluh gak ada idelah, gak bisa merangkai kata-katalah, pokoknya ada aja alasanmu, tapi kenapa kamu bisa jadi mengarang indah begini saat melihat Bunga.”
“itulah cinta, bisa membuat yang gak bisa menjadi bisa.” Terang Doy
“wakakakakaka, atur aja Doy, tapi sekarang kita harus kembali ke kelas, karena bentar lagi pelajaran mau dimulai.
“oke deh”
Kemudian mereka berdua beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju kelas. Kali ini pikiran Idoy tidak tertuju pada pelajaran, melainkan bagaimana mulai mendekati Bunga, selama ini Idoy hanya bisa memandang Bunga dari jauh, masih kurang PD untuk mendekatinya, apalagi Bunga punya banyak kelebihan, dan satu lagi dia selalu dikelilingi cowok-cowok.
“Masih mikirin Bunga yah?”Tanya Billy sambil berbisik, Idoy mengangguk pelan.
“Gimana yah mendekati dia tanpa dia mengetahui perasaanku?”
“Biasanya kamu selalu punya ide, tumben sekarang tumpul. Gimana kalau pura-pura minta diajarin akutansi aja.”
“Iya nih gak tahu kenapa gak ada ide, usul kamu boleh juga tuh, kalau gitu besok coba ah.”
“Nah, sekarang konsentrasi ama pelajaran dulu, ntar pulang sekolah dilanjut lagi.”
“oke deh Bil, thanks yah, kamu memang sahabatku yang paling mengerti.”
Bel akhir sekolah telah berbunyi, Idoypun sudah membereskan peralatan sekolahnya sebelum keluar dari kelas. Diambilnya motor yang di parkirkan tadi kemudian melaju meninggalkan sekolah, tak lupa dia mampir ke swalayan untuk membeli pesanan ibunya, sebelum pulang ke rumah.
“selamat Siang ma.” Sapa Idoy sambil mencium tangan mamanya dan menyerahkan pesanan mamanya tadi.
“Siang nak, kamu kelihatan capek banget, tadi mama masakin makanan kesukaanmu.
“wah, makasih mama, paling tahu aja.”
“eit’s sebelum makan ganti baju dulu, yah.”
“Iya mama sayang.” Idoy segera menuju kamarnya dan bergegas ke ruang makan, untuk menyantap makanan kesukaannya.
Sebagai anak lelaki satu-satunya, Idoy sangat dekat dengan mamanya, jika dibandingkan dengan kedua kakak ceweknya.
Selesai makan. Idoy menuju ke kamar untuk beristirahat, namun kedua matanya sulit untuk dipejamkan, dalam benaknya selalu dipenuhi pemikiran soal Bunga, sosok Bunga yang menarik, gaya bicara Bunga yang menyenangkan, senyum Bunga yang manis dll.
“Gile, otakku isinya Bunga semua, kenapa sosoknya begitu membuatku sampai begini. Kayaknya saran harus kujalankan tuh.” Gumam Idoy.
Akhirnya Idoy bisa memejamkan matanya. Baru sebentar saja Idoy istirahat, mamanya memanggil dari depan kamar.
“Idoy, bangun ada yang nyari tuh”
“Hoam…sapa yang nyari ma, sore-sore begini?”
“si Billy”
“Suruh nunggu sebentar.” Setelah itu Idoy beranjak bangun dan membersihkan wajahnya, kemudian keluar menemui Billy.
“Bil, tumben main gak kabarin duluan.”
“Doy, aku mau ngajak kamu keluar, tadi aku dapat info, si Bunga lagi main ke mall, gimana kalau kita susul?”
“Wuih, gitu dunk gak sia-sia aku mengorbankan jam tidur siang, ternyata ada kabar menyenangkan nih, boleh aja kita susul dia ke mall.”
“Oke deh, cepetan mandi aku tunggu di sini, kita gak usah bawa kendaraan masing-masing, kamu nebeng mobilku aja.”
“wah siip banget, aku mandi dulu ya.”
Tanpa mengulur waktu Idoy segera mandi dan memakai baju terbaiknya dan menyemprot parfum ke tubuhnya, padahal biasanya Idoy gak begitu-begitu amat, tetapi memang cinta bisa merubah segalanya. Setelah itu Idoy dan Billy berpamitan pada mamanya Idoy dan merekapun melaju perlahan menuju mall yang dimaksud oleh Billy. Setelah sampai di sana mereka segera berjalan berkeliling mall, sambil mencari-cari dimana Bunga berada, sedang asyik mencari-cari tiba-tiba idoy melihat Bunga di toko buku sedang mencari buku tertentu, soalnya dilihatnya Bunga hanya melihat judul bukul yang tertera dibagian pinggir, segera Idoy mendekati Bunga.
“Ada yang bisa kubantu, nona?” Tanya Idoy
“Boleh pak, kebetulan saya sedang mencari sebuah novel dengan judul Sang Pecinta” jawab Bunga tanpa menoleh ke arah Idoy karena dikira karyawan toko buku tersebut.
“wah ternyata selera nona sama kayak namanya, Bunga.” Sahut Idoy lagi, Bunga yang namanya disebut menjadi kaget dan menoleh ke sampingnya.
“Astaga kak Idoy, aku pikir tadi karyawan toko buku ini.”
“Gak papa lagi Nga, aku sih yang berlagak sok seperti karyawan di sini. Oh ya, kamu suka yah dengan novel itu?”
“iya kak, tapi dicari-cari gak ada juga.”
“kalau gitu kita ngecek aja dulu di komputer ,judul novel yang kamu cari biar lebih mudah aja.”
“Iya kakak benar juga, aku kok gak kepikiran soal itu yah.” Akhirnya mereka berdua berjalan menuju ke komputer untuk mengecek judul novel yang dicari.
“yah ternyata sudah gak ada, aduh gimana nih?” ujar Bunga dengan wajah sedih.
“Bunga jangan sedih gitu, sebenarnya aku punya kok novelnya di rumah.”
“Yang benar kakak, boleh aku pinjam?”
“Boleh saja sih, tapi ada syaratnya.”
“Ih kakak pakai syarat segala, kalau gak macam-macam aku mau deh.”
“Syaratnya mudah kok, kamu hanya perlu ajarin aku akuntansi, dan novelnya boleh kamu miliki, gimana?”
“kalau itu sih boleh kakak, tapi untuk berapa lama aku ngajarnya kakak?”
“Yah sampai ujian tengah semester ini kan tinggal 3 bulan lagi, habisnya sukar banget, nilaiku selalu rendah, malu kan, makanya aku pengen kamu ajarin.”
“Bolehlah, kalau gitu kita mulai belajarnya besok aja yah, setelah pulang sekolah.”
“Boleh, nanti pulangnya bareng aku aja, terus aku anterin ke rumahmu, kamu ganti baju terus ke rumahku, terus kita belajar yah, gimana?”
“setuju kak, sebelumnya terima kasih yah atas Novelnya”
“ terima kasihnya nanti aja Nga, lagian kan kamu lom terima novelnya.”
“Eh … iya soalnya aku senang banget bisa memiliki novel itu.”
“oh begitu, pantesan bersemangat sekali, oh yah kamu ke sini sama siapa?”
“sama teman-teman tapi meraka lagi di foodcourt, kalau kakak sama siapa?”
“Sama teman juga, dia lagi di tempat penjualan HP, aku tadi belok ke sini karena pengen lihat-lihat buku juga” terang Idoy hanya berpura-pura karena sebenarnya dia ke toko buku hanya untuk menghampiri Bunga.
“oh gitu, terus bukunya dah ketemu belum kakak?”
“ belum sih, tapi lain kali aja carinya, aku keluar dulu yah menemui temanku, kita ketemu besok yah.” Sahut Idoy langsung kabur karena hampir ketahuan dia dari tadi gak mencari buku apapun.
Sebenarnya Bunga agak bingung dengan sikap kak Idoy tadi, tapi Bunga gak berani berprasangka apa-apa. Idoy segera menghampiri Billy yang sedang asyik memilih-milih HP.
“Bil, akhirnya aku bisa lebih dekat sama Bunga”
“kok bisa Doy, cepet banget aksi kamu.”
“iya aku juga gak tahu kok bisa, tapi semua itu berkat buku novel yang dulu kamu paksa-paksa aku untuk beli, padahal kamu tahu aku gak suka baca novel yang seperti itu.”
“terus apa hubungannya Bunga dengan novel?”
“Sabar dulu, itu yang mau aku ceritakan, ternyata Bunga juga cari-cari tuh novel, dan kebetulan di toko buku tadi novelnya sudah habis, yah aku tawarin aja novelku dengan syarat dia harus ngajarin aku akuntansi, dan dia langsung setuju, benar-benar kamu bawa keberuntungan buat aku Bil.”
“waks emangnya aku jimat apa, ya udah sekarang kamu traktir aku makan, tapi pilihin dulu HP yang pas buat aku dan sesuai dengan kantongku.”
“Beres bos, nah sepertinya HP ini cocok buat kamu Bil” ujar Idoy sambil menyodortkan HP yang dipilihnya kepada Billy, kemudian Billy mengamatin Hp tersebut, melihat fitur-fitur yabg disediakan, dan akhirnya, Billy setuju dengan pendapat idoy untuk membeli HP tersebut, setelah transaksi pembelian HP selesai, Idoy dan Billy berjalan menuju foodcourt yang berada dekat tempat penjualan HP. Keduanya memesan makanan kesukaan mereka, selesai makan Billy membayar bonnya.
“Billy, kita pulang yuk, aku mau cepat-cepat istirahat supaya segar, soalnya besok kan hari bersejarah untukku.” Sahut Idoy
“Astaganaga, biasanya kalau belum jam 11 malam mana mau kamu pulang, tapi okelah kita pulang yah, lagian aku juga emang sudah capek, yang penting kamu dah berhasil melancarkan rencanamu untuk mendekati Bunga.”
“Iya Bil, sekali lagi terima kasih, ini bisa terjadi karena kamu juga, kamu benar-benar sahabat yang paling mengerti aku.”
Keduanya berjalan menuju parkiran, setelah masuk ke mobil, Billy melaju menuju rumah Idoy, setelah itu Billy menuju ke rumahnya.
Begitu sampai di depan rumah dan setelah mengucapkan terima kasih kepada Billy, Idoy bergegas menuju kamarnya, dan mulai menari-nari kegirangan di depan cermin, karena akhirnya Idoy bisa mendekati Bunga dengan caranya yang baru.
“Besok adalah awal dari PDKT aku ke Bunga, segalanya harus dipersiapakn sebaik mungkin, semoga berjalan sesuai rencanaku” batin Idoy
Setelah itu Idoypun terlelap sampai pagi.
Keesokan paginya.
“Ma, aku berangkat sekarang yah, karena ada kegiatan penting.”pamit Idoy pada mamanya dan tak lupa mencium tangan mamanya.
“Doy, sarapan dulu, kok gak biasanya buru-buru seperti ini” sahut mamanya
“Sarapannya di sekolah aja ma, udah gak keburu nih” Jawab Idoy sambil melangkah keluar.
“Kalau gitu hati-hati Doy”
Akhirnya sampai juga Idoy di sekolah, sengaja Idoy masuk pagi-pagi karena dia ingin segera menemui Bunga dan memastikan kesepakatan mereka kemarin, tak berapa lama sosok Bunga sudah kelihatan memasuki gerbang sekolah, hati Idoy berdebar melihat penampilan Bunga hari ini, lebih menarik dari sebelumnya.
“Pagi Bunga, gimana dengan perjanjian kita kemarin?” Tanya Idoy begitu Bunga lewat di depannya.
“Pagi kak Idoy, jadi kok, pulang sekolah yah, sekarang aku harus segera ke kelas karena hari ini jadwal piketku.” Jawab Bunga
“Oke deh Bunga, terima kasih atas kesediaannya yah”
“sama-sama kak.” Kemudian Bunga beranjak meninggalkan Idoy.
Sepeninggal Bunga wajah Idoy berseri-seri saat melangkah menuju kelasnya, Billy yang melihat pemandangan ini langsung bisa menebaknya.
“Barusan ketemu Bunga yah” tebak Billy
“Iya, dan pulang sekolah nanti kita akan belajar bersama di rumahku.” Terang Idoy
“Aku ikutan yah?” tanga Billy pura-pura serius
“Yah Bill, untuk kali ini, kamu jangan ikutan dulu yah, ntar aku gak leluasa memperhatikan dia.”
“Ih aku juga Cuma becanda, sapa juga yang mau jadi obat nyamuk”.
Setelah itu mereka berdua duduk di kursinya masing-masing, karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Seharian ini Idoy merasa jam pelajaran terlalu lama, atau sebenarnya dia yang sudah gak sabar menanti waktu pulang sekolah, hampir setiap 1 jam sekali diliriknya jam tangan. Billy agak terganggu dengan apa yang dilakukan Idoy, karena setiap kali melirik jam tangan, siku tangan Idoy mengenai tangannya.
“Doy, tenang sedikit dunk, tanganmu, nyenggol-nyenggol tanganku aja nih, jadinya aku juga terganggu”
“Maaf Bil, aku sudah gak sabar lagi menunggu waktu pulang sekolah.”
“Sabar aja, sebentar lagi jam sekolah berakhir.”
Benar apa yang dikatakan Billy tak lama kemudian bel akhir sekolah berbunyi, setelah ibu guru meninggalkan ruangan, Idoypun bergegas keluar ruangan. Dan kemudia menunggu Bunga di jalan yang biasa dilewati Bunga. Beberapa menit kemudian sosok Bunga sudah kelihatan, Idoy tak sabar nlagi menunggu Bunga lewat di depannya, begitu Bunga lewat Idou segera menghampirinya.
“Bunga, sesuai kesepakatan, sekarang aku antar kamu pulang yah.”
“Bentar yah kak, aku pamitan dulu ama teman-teman.” Kemudian Bunga berjalan menghampiri Grace, Gadis dan Vita untuk mengatakan dia ga bisa pulang bareng mereka karena harus mengajarkan akutansi kepada Idoy, ketiga temannya tak keberatan dengan hal ini. Sesudah itu Bunga kembali kepada Idoy, dan Idoypun mengantarkan Bunga pulang. Begitu sampai di depan rumah Bunga, Idoy segera masuk untuk menemui mamanya Bunga untuk minta izin.
“Siang tante, kenalkan saya Idoy, kakak kelasnya Bunga, walau beda jurusan.” Sapa Idoy
“Selamat siang juga, tumben mengantarkan Bunga pulang.” Selidik mamanya Bunga
“Tante saya mau minta izin agar Bunga boleh mengajarkan saya akuntansi, tapi di rumah saya, ntar sore saya antarkan pulang lagi.”
“Kalau Bunganya gak keberatan, tante izinkan, tapi tolong pulangnya sore saja yah.”
“Terima kasih tante, saya janji pulangnya sore tak lebih dari jam 6.30.”
Bunga yang mendengar telah mendapat izin dari mamanya segera, mempersiapan buku-buku yang akan dibawanya nanti. Setelah semua persiapan selesai, Bunga dan Idoy berpamitan pada mamanya Bunga. Kemudian Idoy mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, dia senang sekali karena bisa membonceng Bunga, apalagi Bunga berpegangan pada pinggangnya, tak lama kemudian mereka telah tiba di rumah Idoy.
“Bunga silahkan masuk, aku parkirkan motor di belakang dulu yah.” Sahut Idoy
“iya kak” kemudian Bunga melangkah masuk ke ruang tamu rumah Idoy yang tertata rapi dan begitu menyenangkan. Di sana ada mamanya Idoy yang sedang membaca majalah.
“selamat siang tante.” Sapa Bunga
“Selamat Siang, ini siapa yah?” Tanya mamanya Idoy
“saya Bunga tante, tadi saya ke sini bareng Idoy, rencananya mau mengajarkan Idoy akuntansi.” Jelas Bunga
“Oh silahkan , malah kebetulan tante senang sekali, soalnya nilai akutansi Idoy gak terlalu bagus jika dibandingkan dengan pelajaran yang lain.”
Tak lama kemudian Idoypun bergabung dengan mereka di ruang tamu, mama idoy pergi ke belakang, karena tak ingin mengganggu anaknya yang sedang belajar. Bunga pun mulai memberikan pelajar kepada Idoy bagaimana mengerjakann soal-soal Akutansi, Idoy mendengar dan memperhatikan semua penjelasan Bunga, walau sebenarnya Idoy lebih memperhatikan wajah Bunga, dan gerak tubuh Bunga saat memberinya pelajaran, namun Bunga tak menyadari hal ini, karena Idoy pandai menutupi perbuatannya itu. Tanpa terasa hari telah beranjak sore, Idoy harus segera menepati janjinya mengantarkan Bunga pulang tepat waktu, soalnya Idoy kuatir kalau dia lalai atau terlambat, bisa-bisa Bunga gak diizinkan mengajar dia lagi, walaupun sebenarnya idoy masih ingin lebih lama lagi bersama Bunga. Setelah berpamitan dari mamanya Idoy segera mengantarkan Bunga pulang. Begitu sampai di rumah Bunga, mamanya sudah menunggu, dan kelihatan senang karena Idoy tepat waktu.
“terima kasih yah nak, sudah mengantarkan Bunga pulang.” Sahut mamanya Bunga
“sama-sama tante, saya permisi pulang dulu, Bunga saya pamit yah, besok kita belajar lagi.”
“Iya kak, hati-hati yah di jalan.” Sahut Bunga
Setelah itu Idoy meninggalkan rumahnya Bunga, dan Bunga masuk ke dalam.
“Bunga, siapa tadi?” Tanya mamanya Bunga
“lah kan tadi mama sudah kenalan, namanya kak Idoy”terang Bunga
“Bukan itu maksud mama, siapa dia bagi kamu nak?”
“Oh teman ma, selama ini Bunga dekat dengannya sebagai teman sekolah, lebih tepatnya kakak tingkat.”
“Anaknya baik, kalau kalian bisa berhubungan lebih dari teman, mama setuju.”
“Ah, mama apa-apan sih, kok mikirinya gitu.”
“gak papa kok Bunga, selama kamu bisa membagi waktu antara belajar dan pacaran, mama gak akan larang, lagian kamu sudah boleh kok pacaran, asal cowoknya dikenali ke mama yah.”
“ih mama, makin ada-ada aja, udah ah, aku mau ke kamar dulu, beres-beres buku untuk pelajaran besok.”
“Iya Bunga tapi jangan lupa makan dulu yah.”
“Siip deh mama.” Setelah itu Bunga beranjak menuju ke kamarnya untuk meletakan buku-bukunya tadi, mandi dan menuju ruang makan, di sana mamanya sudah menunggu, seperti biasa, mereka selalu makan bersama, bercerita soal apa aja. Tapi hari ini Bunga lagi gak ingin bercerita apa-apa karena memang gak ada yang bisa diceritakan. Mamanyapun tak memaksakan kehendaknya agar Bunga bercerita, akhirnya mamanyalah yang banyak bercerita soal arisanlah, soal anak bu RT yang baru lahir, dll. Akhirnya waktu makan berakhir, Bunga segera membereskan meja makan, mencuci piring-piring dan beranjak untuk tidur.
“ma, aku tidur duluan yah.”
“Iya Bunga, jangan lupa doa dulu.”
Malam itu Bunga tidur dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya, terutama pertanyaan mamanya tadi, benar-benar bikin bingung, soalnya selama ini dia dan Idoy hanya temenan, kenapa mamanya merasa mereka ada hubungan special, tapi kalau dipikir-pikir gak ada salahnya aku bisa lebih dekat ama kak Idoy.
“Ah….gara-gara mama nih, jadinya ngelantur.” Jerit Bunga dalam hati.
Dan seperti biasa Bunga kembali memberi pelajaran Akutansi kepada Idoy setiap habis pulang sekolah. Makin hari Bunga makin kagum dengan peningkatan kemampuan belajar Idoy, begitu juga dengan Idoy, semakin hari semakin terpesona dengan kepintaran dan kecantikkan Bunga. Hingga tak terasa sebentar lagi ujian tengah semester akan tiba, itu artinya waktu Bunga untuk mengajar Akutansi ke Idoypun segera berakhir, Idoy sangat tidak suka dengan kenyataan ini, tapi mau gimana lagi sudah kesepakatan bersama.
Hingga pada suatu sore di rumah Idoy
“Kak Idoy minggu depan kita sudah ujian tengah semester itu artinya aku udah gak mengajari kakak akutansi lagi, dan aku amatin kakak sudah makin mengusai mata pelajaran ini.” Sahut Bunga
“Iya Nga, jujur aku jadi sedih kehilangan waktu-waktu belajar denganmu.”
“Jangan gitu kakak, kan kita masih bisa ketemu di sekolah.”
“Iya tapi tetap aja berbeda.” Wajah Idoy sedikit muram saat mengatakan hal ini.
“kak, sudah sore nih, antarkan aku pulang yah.” Pinta Bunga
“Iya nanti aku antarkan, tunggu sebentar aku ambil jaket dulu di kamar.
Bergegas Idoy masuk ke kamarnya tak lupa membawa novel yang sudah dijanjikannya dulu, dan di dalamnya diselipkan selembar surat kepada Bunga. Setelah itu dia keluar kamar menuju temap Bunga berada.
“Bunga, ayo kita berangkat sekarang.”
“Baik kak.”
“Ma, aku dan Bunga pamit dulu yah, mau ke rumah Bunga.”
“tante aku permisi pulang dulu yah.”
“iya Doy, Bunga, hati-hati yah di jalan.” Sahut mama Doy dari dapur.
Setelah itu Idoy menghidupkan motornya dan dengan perlahan melaju meninggalkan rumahnya menuju rumah Bunga, sepanjang jalan hati Idoy dipenuhi tanda Tanya, mengenai reaksi Bunga saat membaca suratnya nanti. Laju motor Idoy makin melambat saat dilihatnya pintu pagar rumah Bunga mulai terlihat, dan akhirnya mesin di matikan tepat saat mereka tiba di depan pagar, sebelum Bunga melangkah masuk, Idoy memberikannya novel.
“Bunga, ini novel yang aku janjikan dulu, terima kasih atas bimbingan belajar Akuntansinya yah.”
“Aduh…terima kasih kak, akhirnya bisa kumiliki juga novel ini, lain kali kalau kakak ada masalah ama akutansi jangan sungkan-sungkan cari aku yah.”
“iya, aku pamit dulu yah, salam buat mamamu, maaf aku gak bisa mampir.” Sahut Idoy
“iya kak, hati-hati yah di jalan.”
Sebenarnya Idoy sengaja gak mampir karena dia ingin Bunga segera membuka novel itu dan membaca surat di dalamnya. Setelah dilihatnya motor Idoy telah melaju, Bunga menunju ke kamarnya, dia sungguh tak sabar untuk membaca novel pemberian Idoy, segera di bacanya novel tersebut, dan betapa kagetnya di dalam novel itu ada sepucuk surat, diambilnya surat tersebut dan dibacanya.
Dear Bunga
Terima kasih atas kebaikkanmu mau mengajarkan aku selama ini. Waktu belajar bersamamu adalah waktu yang sangat menyenangkan bagiku, karena caramu mengajar sangat mengasyikkan, jika dibandingkan dengan guru-guru di sekolah, Selain itu selama beberapa waktu ini aku merasa aku harus mengatakan sesuatu kepadamu, untuk itu aku tunggu kamu di perpustakaan saat jam istirahat. Aku sangat berharap kamu datang.
Ttd
Idoy
Setelah membaca surat Idoy, Bunga jadi bingung, apakah dia harus menerima undangan Idoy, atau mengabaikannya
“ah urusan besok, mah besok aja dipikirin yang penting sekarang, aku lanjutin baca novelnya, mumpung seru tadi jalan ceritanya.
Di sini Bunga sibuk dengan novelnya, di sana Idoy gelisah menunggu hari esok.
****
“Pagi anak-anak” sahut bu guru
“Pagi bu.” Sahut para murid serentak
“Sekarang keluarkan buku pelajaran Akuntansi buka halaman 17, kita akan hahas mengenai hitungan rentabilitas.”
“Baik bu”
Setelah itu Ibu guru mulai menerangkan secara rinci soal rentabilitas, mulai dari pengertian, cara menghitung, dll, para siswa memperhatikan dengan saksama, begitu juga dengan idoy, walaupun pikirannya melayang ke isi suratnya. Bel tanda istirahat berbunyi, Idoy bergegas menuju perpustakaan, menunggu kehadiran Bunga. Sudah 15 menit Idoy menunggu tapi tanda-tanda kedatangan Bunga belum ada.
“Ah, jangan-jangan Bunga memang tidak bersedia menemuiku” gumam Idoy, dengan langkah gontai meninggalkan tempatnya menunggu tadi, namun betapa terkejutnya karena didengarnya suara yang tak asing lagi, ya itu memang suara Bunga menanyakan sesuatu kepada petugas perpustakaan.
“hai Bunga akhirnya kamu datang juga.”
“Iya kak, maaf telat tadi masih harus ada beberapa catatan pelajaran.”
“oh gak papa, yang penting sekarang kamu sudah datang.”
“kak, sebenarnya mau membicarakan soal apa?”
“kita duduk dulu di sudut yah, kalau di sini gak enak banyak yang lalu-lalang.”
“iya kak”Setelah itu mereka berdua berjalan menuju sudut yang ditunjukkan Idoy tadi, begitu sampai di sana, Idoy menarik dua kursi yang saling berjejaran, dan mempersilahkan Bunga menduduki salah satunya, setelah itu Idoy melanjutkan pembicaraan tadi.
“Bunga, sebenarnya sejak lama, aku suka memperhatikan kamu, lebih tepatnya sejak awal kamu menginjakkan kaki di sekolah ini, tapi aku lom yakin dengan perasaanku, apakah aku benar-benar suka padamu, atau hanya tergila-gila saja, tetapi sejak kebersamaan kita 3 bulan belakangan ini, aku makin yakin akan perasaanku, bahwa aku ingin sekali kamu menjadi kekasihku, apakah kamu bersedia?”
Bunga yang mendengar pernyataan Idoy tadi jadi tertunduk malu, karena sebenarnya dia juga memiliki perasaan yang sama, apalagi sejak 3 bulan belakangan ini.
“kak, apakah kakak akan menjaga dan melindungi bunga seandainya bunga mengatakan iya?”
“Aku gak mau menjanjikan itu, tetapi Bungalah yang akan membuktikan selama kita jalan bersama, gimana?”
“Kak, sebenarnya aku juga sayang kakak, jadi aku mau menjadi kekasih kakak.”
“Makasih Bunga.”
Idoy tersenyum bahagia, hamper saja di berteriak, kalau gak ingat ini di perpustakaan, sedangkan Bunga makin tersipu malu dengan sikap Idoy tadi.
“Bunga kita kembali ke kelas lagi, bel tanda masuk sudah berbunyi, ntar pulang sekolah aku tunggu di depan gerbang yah.”
“Iya kakak, aku kembali ke kelas dulu yah.”
Setelah itu Bunga berjalan tergesa-gesa menuju ke kelasnya, dia masih begitu malu untuk berjalan bareng dengan Idoy, dan Idoypun kembali ke kelas dengan wajah berseri-seri dan bersiul-siul riang, Billy yang melihat sikap Idoy ini, sudah bisa menebak, Idoy punya kabar baik.
“Doy, senyum-senyum melulu, lagi seneng yah?”
“Iya Bil, tahu gak, sekarang aku sudah jadian dengan Bunga, lagi-lagi berkat kamu Bil, aku senang banget, ntar pulang sekolah aku bareng dia, oh eh… aku tahu kamu pasti minta traktiran, ntar malam aja yah.”
“Hehehehe, tahu aja nih, oke deh, aku tunggu janjinya yah.”
Sepanjang pelajaran sisa menuju waktu berakhirnya sekolah, Idoy selalu tersenyum, hatinya diliputi kebahagiaan, karena sekarang dia telah memiliki kekasih yang sangat didambanya, bahkan Idoy sudah berhayal kelak akan menghabiskan sisa hidupnya bersama Bunga.
Bel pulang sekolah berbunyi, Idoy segera menuju parkiran dan mengendarai motornya sampai di depan gerbang sekolah menanti sang pujaan hati lewat. Tak berapa lama seperti biasa Bunga berjalan pulang bersama sahabat-sahabatnya. Begitu sampai di depan gerbang tempat Idoy menunggu, Bunga berpamitan kepada sahabat-sahabatnya untuk pulang bareng Idoy.
“Ehem … ehem.. yang baru jadian, kak Idoy, tolong jaga Bunga baik-baik yah.” Sahut Grace diikuti dengan senyum dari yang lainnya.
“Beres, Bunga pasti ku jaga dengan baik, kalau gak, kalian boleh hukum aku.” Timpal Idoy
“bener yah, akan kami ingat baik-baik nih.” sambung Vita.
Setelah itu mereka berdua melaju meninggalkan sahabat-sahabat Bunga. Sepanjang jalan mereka berdua hanya saling diam membisu, membiarkan perasaan mereka yang berbicara, memang aneh, tetapi begitulah cinta. Sebelum mengantarkan Bunga ke rumahnya, mereka mampir dulu ke toko buah, Idoy sengaja membelikan sekeranjang buah buat mamanya Bunga, karena Idoy berharap mamanya Bunga merestui hubungan mereka. Setelah itu mereka melaju menuju rumahnya Bunga. Setelah memakirkan motornya Idoy masuk untuk menemui mamanya Bunga, dan membicarakan niatnya menjalin hubungan dengan Bunga. Dan nampaknya mamanya Bunga memberi restu. Akhirnya Idoy pamit pulang. Dan sesuai janjinya kepada Billy, malam itu Idoy mentraktir Billy dan Idoy menceritakan semuanya kepada Billy. Setelah jam menunjukkan pukul 23.00 merekapun kembali ke rumah masing-masing.
Semakin hari hubungan Idoy dan Bunga semakin lengket, mereka seolah tidak mau terpisahkan lagi, dimana ada Idoy di situ pasti ada Bunga, siapapun yang melihat hal ini pasti iri, karena mereka berdua tampak serasi, Idoy menjadi penyemangat Bunga, begitu pula sebaliknya. Namun sayang hubungan ini tak berlangsung lama, karena orang tua Idoy belum merestui Idoy untuk berpacaran, bagi mereka Idoy harus sekolah yang benar dulu, kuliah dan bekerja baru boleh berpacaran. Akibatnya Idoy mulai menjaga jarak dengan Bunga, tidak ada lagi kemesraan seperti dulu, Bunga heran dengan perubahan sikap Idoy, tetapi Idoy tak pernah mengatakan apa-apa, dan akhirnya hubungan mereka jadi hambar, Idoy jadi terlihat sering muram, Billy gak berani bertanya apa-apa, hanya memperhatikan sahabatnya itu. Bunga yang merasa dipermaikan dengan sikap Idoy, menjadi marah dan makin menjauh, kalaupun mereka berpapasan di sekolah paling hanya mengatakan hai, terus keduanya berlalu begitu saja, tanpa ada senyuman, tanpa ada kata-kata. Sebenarnya hati Idoy sangat terluka dengan hal ini tetapi apa mau dikata, Idoy sangat sayang pada mamanya dia gak mau membuat mamanya kecewa. Tetapi saat itu Idoy diperhadapkan pada 2 pilihan yang sangat berat antara mamanya dan orang yang sangat disayanginya.
Akhirnya Idoy sakit, karena beban perasaan yang ditanggungnya terlalu menekan kuat, bahkan tersenyumpun menjadi hal yang langka saat ini, padahal sebelumnya senyuman selalu
menghiasi wajah Idoy, sehingga dia dijuluki smileboy, oleh teman-temannya, tapi itu dulu. Mamanya idoy yang melihat perubahan ini juga ikutan sedih, mamanya Idoy menyadari perubahan ini terjadi setelah mamanya memberikan lampu merah dalam urusan berpacaran, namun melihat kondisi Idoy yang seperti ini, hati seorang ibu tentu gak tega, akhirnya, Idoy mendapat izin untuk berpacaran, Idoy senang sekali dengan hal ini. Idoy mulai mendekati Bunga lagi, tetapi sayang Bunga sudah terlanjur terluka, akhirnya Idoypun membiarkan Bunga dengan perasaannya, Idoy sadar dialah yang telah membuat Bunga demikian, karena itu Idoy tak ingin lagi melukai Bunga.
Akhirnya Idoy mulai kembali seperti dulu, pasang aksi untuk menarik perhatian cewek, kali ini yang diincarnya adalah salah satu sahabat Bunga, Idoy bingung kenapa dia bisa begitu, apakah karena sahabat Bunga memiliki kemiripan sifat dengan Bunga, makanya Idoy suka? Karena untuk mendapatkan Bunga lagi, bagi Idoy itu sudah tak mungkin, karena Bunga benar-benar sudah tidak memberikan kesempatan itu, akhirnya Idoy meminta tolong kepada Billy untuk menyampaikan pesannya kepada Delly agar mereka ketemuan di Perpustakaan sekolah. Billy menyanggupinya, karena Billy senang akhirnya Idoy bisa tersenyum lagi. Akhirnya Delly bersedia menemui Idoy di perpustakaan, di sana Idoypun mengungkapkan isi hatinya, tetapi sayang Delly tidak bersedia menjalin hubungan kasih dengannya, karena bagi Delly persahabatan lebih penting, Delly tak ingin merusak persahabatannya dengan Bunga karena masalah ini, Idoypun bisa menerima penolakan Delly. Walau cintanya ditolak, Idoy berjanji tak akan sedih lagi, tak akan murung lagi. Benar kata mama, kalau aku sekolah dengan benar, kuliah dengan baik, dan mendapat pekerjaan yang bisa memberi kehidupan, maka pasangan hiduppun bukankah sesuatu yang sulit. Karena pada dasarnya cewek lebih tertarik pada pria yang bisa memberinya ketengan dalam hal ini bisa menjaga dan juga bisa memberikan dia kehidupan. Dan karena tekatnya itu Idoy makin rajin belajar.
****
“Idoy, tolong ke ruanganku sebentar ada yang perlu kita bicarakan” panggil manajernya
“Baik pak, saya segera kesana.” Sahut Idoy
Panggilan Pak manajer tadi menyadarkan Idoy dari kenangannya akan masa lalunya itu.
“Doy, menurut kamu, liburan karyawan kali ini kemana?” Tanya pak manajer
“Menurut saya, gak perlu keluar kota, cukup di objek wisata yang menyediakan sarana Outbound, gimana pak?” usul Idoy.
“Oke juga tuh Doy, selain menghemat biaya, karyawan bisa bersenang-senang melepas penat, kamu siapakan semuanya yah.”
“baik pak, saya kembali ke ruangan saya lagi.”
Setelah itu Idoy meninggalkan ruangan manajernya dan kembali ke mejanya. Dibukanya lagi facebook, untuk menambahkan kedua nama tadi ke list friendnya, Idoy mengirimkan pesan kepada kedua nama tersebut, hanya beberapa detik, kedua nama tersebut memberi konfirmasi mereka menyetujui ditambahkan di list Friendnya Idoy, bahkan mereka berdua mengirimkan pesan senang bertemu kembali dengan Idoy setelah berpisah hampir 10 tahun, Idoy senang sekali dengan hal ini, maka diapun mengirimkan pesan balik, dari hari ke hari hubungan mereka sudah seperti sahabat, bahkan bagi Idoy inilah kesempatan untuk meminta maaf kepada Bunga dan Delly atas perbuatannya dulu, terutama kepada Bunga Idoy menjelaskan semuanya termasuk kenapa dulu dia bersikap aneh bahkan menjaga jarak, dan nampaknya Bunga sudah tidak mengingat masalah itu lagi, bahkan memaafkan Idoy sepenuh hati. Saat ini baik Bunga, Delly dan Idoy sudah memiliki pasangan masing-masing. Dan kelihatannya Bunga dan Delly bahagia dengan pasangannya. Idoypun sebenarnya bahagia dengan pasangannya, namun di sudut hatinya Idoy masih menyimpan rasa sayang yang dulu hanya milik Bunga.
Walaupun Idoy sangat menyukai kalimat ini “Cinta pertama bukan cinta bukan cinta yang terakhir, tetapi cinta yang terakhir bagai cinta yang pertama yang akan selalu menyertai dimanapun berada.”
Namun Idoypun tak bisa memungkiri “ Dihatinya masih ada bayang cintanya yang dulu itu”
Sayup terdengar dari radio, Glen Freddly mendendangkan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintainya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini hidup untuk skali ini saja.

 

Sekian
ik@ve+1

Tertarik dengan artikel Tinggal kenangan? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 5 You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh materi dari Tinggal kenangan boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More