KAU YANG TERINDAH

“Jerry, tendang bolanya ke sini” teriak Boy memberi aba-aba
“Oke Boy, siap-siap yah” sahut Jerry“Mantap Jer, Dewa nanti terima bola dariku terus dioper ke Yudi, pokoknya hari ini kita harus bisa mengalahkan Tommy dan kelompoknya” teriak Boy memberi aba-aba kepada teman-temannya yang lain. Begitulah suasana permainan bola sore itu, begitu ramai, Boy begitu bersemangat memberikan aba-aba dan mengatur strategi permainan, karena memang dia pengen sekali memenangkan permainan ini, maklumlah selama ini kelompok Tommy terkenal akan kekompakan dan kerjasama yang baik, makanya sering banget menang dalam permainan, Boy jadi antusias untuk mengalahkan Tommy dan kelompoknya.
“Wilson, oper bolanya ke Ulis, Thesar kamu menghadang serangan Boy” teriak Tommy juga memberikan arahan kepada kelompoknya.

“Tommy awas di belakangmu ada Dewa yang siap merebut bola dari kakimu.” Teriak Arie memberikan peringatan. Namun Tommy lengah, Bola berhasil direbut Dewa dan dioper ke Stenly, Stenly mengoper ke Boy, Boy menangkap bola tersebut dengan manisnya dan Boy segera mengarahkan bola ke mulut gawang yang dijaga oleh Harry tetapi sebelumnya Boy mempermainkan bola tersebut ke kiri dan ke kanan untuk mengecohkan perhatian Harry, dan setelah gawang dilihatnya kurang terlindungi dengan baik, Boy melepaskan tendangan mautnya, dan Goool. Sore ini Boy dan kelompoknya berhasil memberikan nilai 1 – 0 melawan kelompok Tommy di babak pertama. Setelah istirahat 15 menit, peluit dibunyikan sebagai tanda dimulainya babak kedua. Tommy segera mengatur strategi baru untuk membalas permainan Boy dan kawan-kawan. Tommy menggiring bola ke arah Arie, Arie mengoper bola kembali kepada Tommy, karena hampir bola tersebut direbut oleh Yudi, setelah itu Tommy memberikan bola kepada Ulis, namun tembakan ke arah Ulis meleset, Boy berhasil mendapatkan bola, dioper ke Jerry, Jerry mengoper ke Stenly, Stenly menembak ke gawang yang dijaga Harry, namun gagal mencetak gol, karena Harry lebih cepat menangkap bola. Harry menendang bola ke arah Tommy, Tommy mengoper ke Ulis, tetapi lagi-lagi bola bisa direbut oleh Boy, Boy mengoper ke Yudi, Yudi mengoper ke Dewa tetapi bisa direbut oleh Wilson, Wilson berhasil menggiring bola ke arah gawang yang dijaga oleh Marlon, Marlon telah bersiap-siap untuk menangkap bola tersebut, namun Wilson mengoper kembali bola ke Arie sebagai bentuk strategi penyerangan, Arie mengoper bola ke Ulis dan Ulis melakukan gerakan tipuan untuk mengelabui Marlon, dan akhirnya goool, tim Tommy berhasil menyeimbangkan permainan menjadi 1 – 1. Hari telah semakin sore, suasana mulai gelap, mereka mengakhiri permainan bola.

“Tom, hari ini kita seri, tapi lain kali aku akan mengalahkanmu” ujar Boy
“Silahkan bung, aku selalu siap melayani” jawab Tommy dengan tersenyum
Mereka berdua saling menepuk bahu, ya walau dalam permainan mereka adalah rival namun dalam persahabatan mereka sudah seperti saudara.Tiba-tiba lewat seorang gadis cantik yang selama ini menjandi inceran Boy, tetapi Boy terlalu malu untuk menyatakan, namun hal ini diketahui oleh Tommy, karena wajah Boy berubah tersipu, padahal gadis tersebut tidak melihat ke arah mereka.

“Hayo, naksir ama Dinda yah?” tebak Tommy
“Ah enggak, kata siapa?” Boy pura-pura mengelak
“Gak ada yang bilang kok, tapi wajahmu yang kasih tahu, karena sikap kamu jadi gugup gitu”
“Ah jangan ngaco gitu dunk” Boy lagi-lagi mengelak padahal dalam hati dia mengakui tebakan Tommy benar.
“Ya, masih gak jujur juga, aku mau bantu comblangi, asal kamu ngaku dulu.”
“Gimana yah, masak dicomblangi sih?”

“Ha..ha..ha, akhirnya ngaku juga, mbok dari tadi, pakai ngeles segala” Boy yang ditembak langsung seperti itu oleh Tommy makin gelagapan dan malu.

Sebenarnya Boy gak ngerti sejak kapan mulai menyukai Dinda, padahal Dinda jarang berbicara berdua dengannya, paling kalau ketemu hanya menyapa, apa karena Dinda murah senyum dan cepat akrab dengan siapapun…..“waaaaaaks….kesiangan, mana kuliah pertama dosennya killer lagi, gak toleran ama mahasiswa yang datang terlambat.” Keluh Boy pagi ini sambil melihat jam wekernya

“Aneh jam weker juga kok gak berbunyi, perasaan semalam sudah kuaktifkan, jangan-jangan ini ulahnya Wilson, ngerjain orang di pagi hari.”

“Wilsoooon, ke sini sebentar” teriak Boy memanggil
“Ya ada apa kak, pagi-pagi sudah teriak-teriak begini” sahut Wilson
“kamu yah yang semalam matiin jam wekerku?”
“enggak, kakak tuh yang menjatuhkan saat tidur, terus aku yang naruh kembali ke meja kakak, tapi aku gak ngecek apakah tombolnya masih tertekan atau enggak.”
“Gimana sih, masak gitu aja gak dicek dulu”
“Loh kok kakak jadi marah-marah gini sih, yang jatuhin kan kakak”
“Gimana gak marah-marah, hari ini kan ada ujian, sekarang dah ampir telat lagi”
“memangnya kakak kuliah jam berapa?”
“jam 7.30”

“Oh, masih bisa sampai tepat waktu, sekarang kakak cuci muka, gosok gigi, nanti aku yang ngantar, pakai ngebut”
“Nah gitu dunk, baru adik yang baik”
Setelah itu Boy cepat-cepat menuju kamar mandi, gak pakai mandi Cuma cuci muka dan sikat gigi. Langsung tancap ke kampus sambil dibonceng Wilson, soalnya motornya Boy lagi diperbaiki gara-gara tabrakan 2 hari lalu. Begitu tiba di pintu masuk kampus, Boy melirik jam tangannya
“Masih ada 1 menit sebelum dosen killer itu masuk” gumam Boy
“kak, aku ke sekolah dulu yah.”
“oke Son, thanks yah”
Segera sesudah itu Boy berlari menuju ruang perkuliahan, namun aneh teman-teman yang lainnya masih ada di luar ruangan.

“loh kok pada belum masuk kuliah?”Tanya Boy kepada Dorry
“Baca aja tuh pengumuman, di depan pintu, hari ini pak Siahaya gak masuk, karena sakit” sahut Dorry
“Astaganaga bonar, percuma dunk buru-buru ke kampus gak mandi lagi, hanya supaya gak terlambat, eh dosennya malah sakit, cape deh” ujar Boy kesal. Karena hari ini hanya ada 1 mata kuliah, Boy segera keluar kampus dan menuju ke warnet.

Segera dia mengetik alamat situs favoritenya untuk memantau jadwal pertandingan bola di TV, sambil iseng Boy mengaktifkan juga situs pertemanan.
“ah sapa tahu saja Dinda punya account di situs ini, cari tahu ah”gumam Boy
Setelah itu dia mengetik nama lengkap Dinda dan menekan tombol search, ada beberapa orang yang memiliki nama sama, diteliti satu-satu foto yang terpasang, dan…
“Ada juga ternyata data dia di situs ini, lihat info status ah, wah ternyata masih single, boleh juga nih” gumam Boy lagi sambil senyum-senyum
“Hayo kok browsing sambil senyum-senyum sih, apa ada yang seru ya”
“a…..” tiba-tiba Boy tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena begitu dia melepaskan pandangannya dari keyboard untuk melihat lawan bicara, ternyata yang menanyakan adalah Dinda.
“Kok gak dilanjutkan sih, malah bengong, hayo lagi browsing apaan?” Tanya Dinda lagi
“Gak browsing apa-apa kok Cuma lagi buka situs perteman saja.” Jawab Boy menutupi rasa gugupnya
“Wah kebetulan, kalau gitu kamu add aku juga dong, jadi kita bisa tukeran informasi”
“Boleh, apa nama emailnya?” Tanya Boy pura-pura, padahal Boy kan memang sedang buka profilenya Dinda
“Kamu add aja dinda_imut@ngarangaja.com”
“oke deh Din, jangan lupa di approve yah”
“beres tapi nanti yah setelah aku menyelesaikan laporan.”
Hari itu Boy senang sekali karena sudah mendapatkan banyak informasi tentang Dinda dari situs pertemanan itu, ditambah lagi Dinda aktif banget, dan dari komentar-komentar Dinda kepada sahabat-sahabatnya, terlihat jelas bahwa memang Dinda anaknya asyik banget. Boy semakin terpesona, dan semakin ingin lebih mengenal pribadi Dinda.
“Ah akhirnya diapprove juga” gumam Boy sambil menuliskan pesan singkat
Boy : “terima kasih sudah diapprove”
Dinda : “sama-sama, oh yah kok gak kuliah hari ini?”
Boy : “tadi udah ke kampus tapi dosennya sakit makanya aku ke sini, lagian hari ini Cuma 1 mata kuliah”
Dinda : “oh gitu kirain aja sengaja bolos”
Boy : “enak aja sapa yang berani bolos, dosennya kan terkenal killer abis, kamu kenal kan pak Siahaya”
Dinda : “ oh iya emang dia itu killer”
Boy : “Dah dibela-belain ke kampus gak pake mandi, eh malah tuh dosen sakit.”
Dinda : “Ha….. gak mandi, bau dunk, hehehehe.”
Boy : “Hehehe, kagaklah, walau gak mandi kan pake parfum.”
Dinda : “Tetap aja, gak segar, apa gak gerah nih?”
Boy : “Gerahlah, namanya aja tadi ampir kesiangan.”
Dinda : “Oh gitu yah, Boy aku tinggal masuk kuliah dulu yah, ntar kita sambung lagi.”
Boy : “oke Din, met belajar yah.”
Percakapan singkat itupun berakhir, hati Boy senang sekali karena ternyata memang Dinda sangat asyik diajak ngobrol. Dan sejak obrolan itu, keinginan Boy untuk mendekati Dinda semakin kuat, bahkan saking kepengennya Boy sampai terbawa mimpi

Dinda, sejak lama aku ingin menyatakan isi hatiku yang terdalam, tak tahan rasanya hati ini tuk mengatakan sayang padamu Dinda, senyummu, tawamu, begitu kuat menari-nari dibenakku, maukah engkau menjadi kekasihku…??? Dengan senyum manis Dinda menjawab, Boy aku…..

“apa-apan sih ngetuk kamar orang keras-keras.” Teriak Boy kesal karena mimpinya terputus saat Dinda hendak memberikan jawaban.
“Maaf kak Boy bangunin kamu, tapi di luar ada yang nyariin kamu tuh.” Teriak Wilson dari depan pintu
“Siapa sih malam-malam datang mencari.” Tanya Boy
“Kurang kenal kak, tapi kayaknya teman kuliah kak, cantik loh orangnya.
“Wah kalo gitu tolong bilang tunggu sebentar, kak mau cuci muka dulu.” Setelah itu Boy menuju ke kamar mandi dan membasuh muka serta merapikan rambut dan bajunya kemudian menuju ke ruang tamu.
“Eh Dinda, sudah lama tunggunya.” Sapa Boy begitu melihat ternyata yang datang adalah Dinda
“Maaf Boy membangunkan tidurmu, tapi aku memang lagi butuh kamu nih.” Sahut Dinda gak enak hati.
“Ah gak papa, Cuma tadi kaget aja, soalnya Wilson kalo bangunin suka ngagetin gitu. Oh yah mau minta tolong soal apa nih?”
“Gini Boy, aku ada tugas buat menulis tentang kehidupan nelayan, nah kata teman-teman rumah nenekmu dekat pantai, jadi aku mau minta tolong tinggal di sana untuk beberapa saat, boleh gak?”
“tentu saja boleh lah, lagian sudah lama juga aku gak mengunjungi nenek, malah kebetulan juga.”
“Aduh terima kasih Boy, aku jadi merepotkan nih.”
“tentu saja enggak, oh yah rencananya mau mulai meneliti kapan nih?”
“minggu depan, kamu ada acara gak nih?”
“wah kebetulan juga minggu depan emang lagi kosong mata kuliah nih, maklum mata kuliah yang kuambil semester ini hanya satu dan rencana semester depan udah mau skripsi, sapa tahu di tempat nenek dapat ide buat nulis skripsi.”
“aduh terima kasih banget Boy, kalo gitu aku permisi pulang lagian udah malam, sekali lagi terima kasih yah.”
“Din, tunggu sebentar biar aku anterin yah, lagian gak enak kan kamu pulang sendirian, ntar kalo ada apa-apa kan gawat.”
“Hehehe, kamu bisa aja, tapi bolehlah, sekalian kita makan mie goreng di ujung gang yah, denger-denger sih enak.”
“emang enak kok, itu kan warung mie langgananku.”
Setelah itu Boy mengambil jaket dan mulai mengantar Dinda ke gang depan dengan mengendarai motor Wilson. Motor bergerak perlahan saat warung mie yang dimaksud telah terlihat, Boy mematikan mesin dan memakirkan motornya dan mereka berdua melangkah memasukin warung mie tersebut.
“Din, mau pesan mie apa nih.” Sahut Boy sambil menyodorkan daftar menu.
“Hmm, karena baru pertama kali nih, kamu aja yang pesan yah Boy.” Jawab Dinda sambil memberikan kembali daftar menunya ke Boy.
“Oke deh Din.” Sahut Boy kemudian memanggil pelayan
“Boy, minggu depan kita berangkatnya setelah sarapan saja yah.”
“Boleh-boleh aja Din, rencananya mau naik motor apa mau naik angkot aja nih?”
“Kalo bisa sih naik motor aja.”
“Oke deh kalo begitu, hmm pesanan kita dah datang tuh, moga-moga aja kamu suka yah”
Setelah menerima pesanan yang diantarkan pelayan, Dindapun mulai mencicipi mie pesanan Boy.
“Enak Boy, sesuai ama cerita yang aku dengar selama ini.” Puji Dinda
“Syukurlah kalo begitu, itu sih rasa mie kesukaanku.”
“Oh yah Din, rencana kamu mau tinggal berapa lama di tempat nenekku nih?”
“ya kalau kamu ama nenekmu gak keberatan, kira-kira seminggu di sana, soalnya sekalian mau praktek soal mengelola hasil laut, nah aku ambil yang mudahnya aja yaitu membuat ikan asin.”
“Aku rasa nenekku gak keberatan, kalau aku sendiri jelas gak keberatan, kan mau nemani cewek semanis kamu, siapa sih yang nolak.”
“Ah Boy kamu bisa aja nih, sekali lagi terima kasih yah.”
Setelah menghabiskan mie yang dipesan, keduanya beranjak pergi menuju kediaman Dinda, sepanjang perjalanan Dinda hanya diam saja, sedangkan hati Boy begitu berbunga-bunga, karena tak disangka dia akan bersama Dinda selama seminggu di tempat nenek yang suasananya sepi namun mempesona, karena berada dekat pantai, membayangkan itu saja cukup membuat hati Boy bergetar apalagi nanti bila benar-benar menikmatinya berdua dengan Dinda. Tak terasa motor mulai memasuki area pekarangan rumah Dinda, Boypun mematikan mesin motor dan melangkah bersama Dinda memasuki pintu rumahnya.
“Boy, terima kasih mau mengantarkan aku ke rumah, mau mampir dulu?”
“Sama-sama Din, aku rasa gak usahlah, lagian sudah malam, kamu kan perlu istirahat dan mempersiapkan perlengkapan ke tempat nenekku, kan tinggal 2 hari lagi.”
“Iya Boy, kamu benar juga, aku masuk dulu yah.”
Setelah itu Dindapun melangkah masuk ke dalam rumah sementara Boy menghidupkan kembali mesin motornya dan melaju perlahan sambil bersiul menuju rumahnya.

*****
Hari yang dinantipun tiba, Boy mempersiapkan semua barang-barang yang dibutuhkan selama menginap di rumah nenek. Sementara itu di lain tempat Dindapun melakukan hal yang sama, semua barang-barang yang dibutuhkan telah dimasukan ke dalam tas, setelah selesai mengepak, Dinda bergegas mandi, merapikan pakaian, dan bersiap-siap menunggu Boy menjemput, sesuai kesepakatan, tepat jam 9, Boy datang ke rumah Dinda. Setelah berpamitan kepada orang tua Dinda, keduanyapun bergegas pergi menuju kediaman nenek Boy. Perjalanan ke sana cukup jauh, namun sangat mengesankan, karena hampir di sepanjang jalan Dinda menikmati pemandangan yang seolah berpacu dengan laju motor yang dikendarai Boy, sementara Boy semakin tak sabar untuk segera sampai ke tempat neneknya, karena ternyata Boy ingin menunjukkan kepada Dinda, tempat favorite semasa dia kecil dulu.
“Dinda pasti terkesan bila melihat keindahan tempat itu.” Batin Boy sambil tersenyum, tanpa sengaja Dinda melihat melalui kaca spion.
“Boy kok senyum-senyum sendiri sih, emang ada yang lucu yah?” Tanya Dinda
“Gak papa kok.” Jawab Boy tersipu-sipu karena ketahuan senyum sendirian.
Motor terus melaju menelusuri jalan-jalan yang mulai berliku mengikuti lekuk alam daerah pesisir, kadang terdengar suara ombak menghantam dinding karang, menambah harmony suasana alam. 3 jam kemudian keduanya mulai memasuki pemukiman tempat nenek Boy tinggal. Dimana-mana ramai terlihat orang-orang yang sedang sibuk menjemur hasil laut, mulai dari ikan, udang, sampai cumi. Boy melemparkan pandangan kemana-mana, mencari sosok neneknya diantara keramaian orang-orang yang sedang sibuk bekerja, tiba-tiba Boy menajamkan pandangannya ke arah seorang nenek yang sedang merapikan jemuran ikan di sudut sana, setelah diperhatikan secara saksama, Boy mengajak Dinda menuju kepadanya, dan tak salah lagi itu memang neneknya Boy.
“Selamat siang nenek.” Sapa Boy sambil mencium tangan neneknya dan merangkulnya
“Boy, cucu nenek, kapan datangnya.” Sahut nenek dengan perasaan gembira karena kerinduannya terobati sudah berkat kedatangan Boy
“Baik-baik saja nek, oh yah kenalkan ini Dinda, teman kuliah Boy” sahut Boy sambil menoleh ke arah Dinda
“selamat siang nek.” Sahut Dinda sambil mencium tangan neneknya Boy
“Selamat siang juga, oh yah kalian berdua ayo bantuin nenek merapikan jemuran ikan-ikan ini setelah itu baru kita pulang.” Sahut nenek
“baik nek” sahut Dinda dan Boy bersamaan. setelah itu keduanya mulai membantu nenek merapikan jemuran ikan. Cukup banyak juga ikan yang dijemur, aroma laut begitu tajam menusuk penciuman, terkadang Dinda menutup hidungnya, memang Dinda belum terbiasa dengan keadaan ini.
“Ayo sekarang kita pulang” ajak nenek boy kepada Dinda dan Boy
“Baik nek.” Sahut mereka berdua.
Ketiganya berjalan beriringan menuju rumah nenek Boy yang terlihat sederhana namun asri karena di pekarangan tumbuh dengan subur pohon palem.
“Masuk Boy, Dinda, ini rumah nenek sempit, tapi cukuplah buat bertiga.”
“Ah nenek, rumahnya asri banget, Dinda betah di sini, mana sejuk n dekat pantai lagi, tempat yang sangat Dinda sukai.”
“Oh, syukurlah kalu begitu, kalian berdua tarus tasnya di kamar depan setelah itu mandi dan istirahat sebentar, nenek mau masakin makanan kesukaan Boy.” Sahut nenek sambil melangkah ke dapur.
“Boy, nenekmu menyenangkan sekali yah, ramah lagi.”
“Iya nenek memang orang yang menyenangkan, makanya aku suka banget mengunjungi nenek, tapi karena kesibukan aja, makanya jadi jarang kemari.”
“Boy, sini sebentar” panggil nenek
“Iya nek, boy ke sana yah.”
“Ini Boy, bantuin nenek kipasin ikannya, nenek mau istirahat sebentar yah, capek dari tadi kerja.”
“Iya nenek istirahat aja, biar Boy yang siapin semua, yang penting nenek dah buatin bumbunya, yang lainnya serahkan ke Boy, met istirahat nek, ntar kalau dah mateng, Boy bangunin yah.”
“Iya, ditungguin yah, jangan sampai gosong.”
“Siap nek.” Setelah itu Boy segera menerusak membakar ikan, aroma wangi menyebar ke seluruh rumah, Dinda penasaran, Boy sedang apa di dapur.
“Boy, sedang apa nih, baunya wangi banget, jadi penasaran nih.” Sahut Dinda
“Nih lagi bakar ikan yang dibuat nenek, emang kalu nenek yang bumbuin pasti enak dan wangi, makanya aku suka banget masakan nenek yang satu ini, Din.”
“Iya Boy, benar-benar bikin lapar, mau aku bantuin?”
“Ah, gak usah Din, lagian tinggal bentar lagi mateng kok.”
Memang benar, tak lama kemudian masakan matang, Boy segera merapikan meja makan dan mengatur masakannya tadi, Dinda takjub dengan kecekatan Boy, gak nyangka aja Boy bisa berbuat begitu, dalam hati Dinda jadi tertarik pada boy, bukan karena tampang Boy melainkan apa yang Boy lakukan hari ini.
“Oh yah din, aku bangunin nenek dulu yah, kamu bantuin aku tuangin air di gelas yah, makasih sebelumnya.”
“Iya Boy, santai aja lagi.” Setelah itu Dinda melalukan apa yang diminta Boy, sementara Boy pergi membangunkan neneknya, dan mereka bertiga sekarang telah berada di meja makan. Suasana makan begitu santai dan akrab, tak henti-hentinya suara tawa terdengar, Dinda merasa beruntung berada di antara mereka. Setelah selesai makan Dinda membantu Boy membereskan meja makan, sedangkan nenek kembali ke ruang tengah untuk menikmati siara tivi kesayangannya. Boy mengajak Dinda keluar sebentar.
“Din, ikut aku deh, ada suatu tempat yang ingin aku tunjukkan padamu.”
“Dimana Boy? Jauhkah dari sini ?” Tanya Dinda bertubi-tubi
“Ikut aja Din, gak jauh kok, n dijamin kamu pasti suka.”
Keduanya berjalan beriringan menuju tempat yang dimaksud Boy, sepanjang jalan Dinda penasaran, sebagus apa tempat yang akan diperlihatkan Boy padanya. Sudah 15 menit mereka berjalan dan akhirnya mereka tiba di tempat yang dimaksud dan memang benar seperti yang Boy bilang tempat itu begitu indah dengan hamparan bunga dan suara air bergemericik memecah kesunyian, Dinda hamper tak bisa berhenti berdecak kagum akan keindahan tempat itu. Dalam hati Boy senang sekali melihat mata Dinda yang berbinar bahagia.
“Din, sebenarnya aku mengajak kamu ke sini karena ada sesuatu yang mau aku bicarakan, dan ini adalah tempat yang aku buat beberapa bulan lalu.”
“Wao Boy, sungguh indah sekali dan gak nyangka kamu bisa membuat tempat yang indah ini, oh yah kamu mau bicara apa denganku nih?”
“Din, sebenarnya sudah lama aku suka sama kamu, tapi aku gak tahu gimana harus menyampaikannya, makanya setiap kali aku melihatmu, aku membayangkan bunga-bunga yang indah, dan aku abadikan di tempat ini dan berharap kelak kamu akan kemari, lama juga kumenunggu, tapi sekarang semua terbayar sudah, din maukah kamu menjadi bagian hidupku?” pinta Boy sambil menggenggam tangan Dinda dengan lembut. Dinda sungguh tak menyangka Boy begitu romantis dan memperlakukannya begitu istimewa. Untuk sesaat Dinda hanya bisa terdiam, tak tahu harus bicara apa, tetapi dalam hatinya, Dinda begitu bahagia karena seperti inilah kisah cinta yang sangat Dinda inginkan.
“Din, kenapa hanya diam, jawab dunk.” Suara Boy membuat dinda tersadar akan lamunannya
“Oh.. eh.. Boy maaf, aku masih begitu kagum dengan keindahan tempat ini, sampai-sampai tak tahu harus bicara apa.” Jawab Dinda tersipu-sipu malu.
“Din, maukah kau menjadi bagian hidupku?” Tanya Boy kembali
“Boy, jujur kamu telah membuatku begitu terpesona, dan aku juga tak bisa bohongin hatiku bahwa aku juga menyukaimu, apalagi aku melihatmu begitu telaten mengurus pekerjaan rumah, hal langka yang dilakukan seorang laki-laki. Ya Boy aku mau menjadi bagian hidupmu.” Jawab Dinda sambil tertunduk malu.
“Terima kasih Dinda, aku janji akan selalu menjaga dan menyayangimu apa adanya.”
“Boy…….Dinda…… ayo pulang sudah sore, sebentar lagi gelap.” Teriak nenek memanggil mereka berdua
“Iya nek, kami segera pulang.” Keduanya segera melangkah meninggalkan tempat indah itu dengan senyum yang terus menggembang mengiringi tenggelamnya mentari.

Senja telah menjadi saksi indah terjalinnya dua hati yang saling menyayangi, mengagumi dan mencintai, semoga cinta mereka berdua ‘kan selalu terjaga dan tetap kokoh sampai akhir waktu.

ik@ve+1

Tertarik dengan artikel KAU YANG TERINDAH? Sempatkan waktu Anda untuk berlangganan via e-mail dan menerima update tentang artikel menarik lainnya :

Privasi dijamin. E-mail Anda tidak akan dipublish.

Baca juga artikel lainnya :
| Rating : 5 You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh materi dari KAU YANG TERINDAH boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk menjadi berkat bagi semua orang, dengan syarat mencantumkan sumbernya (www.kerangrebus.com). Terimakasih.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More